Bibliolive,  My Book

Indahnya Jika Dipanggil Bunda; Setiap Istri Memiliki Mimpi yang Sama

Ini kumpulan kisah calon bunda yang ditulis oleh 16 kontributor yang dilakap ‘ibu gagal’ atau sebutan sejenis yang menyakitkan.

Saya juga terpilih menjadi kontributor di buku ini. Silahkan buka judul terakhir, halaman terakhir, kalian akan menemukan tulisan saya di sana. Dear Ayesha, begitu judulnya.

*

Judul Buku: Indahnya Jika Dipanggil Bunda; Curahan Hati Mereka yang Menunggu Buah Hati • Penulis: Rosdiana Amalia, dkk • Editor: Mutthia Mananti • Penerbit: Penerbit Laksana (Yogyakarta: Cet 1, 2018) • Tebal: 212 halaman • ISBN: 978-602-407-409-8

 

Anak itu hadiah dari Tuhan. Anak tidak bisa dibeli karena memang tidak bisa diperjualbelikan. Seberat dan semahal apa pun prosesnya. Jika Tuhan tidak ingin memberikan hadiah itu, tentu tak akan kami dapatkan. (Rosdiana Amalia).

Menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ya, jika kebanyakan wanita mendambakan seorang anak. Saya justru memiliki… Sebut saja ketakutan. (Muhajjah Saratini)

Siklus kehidupan wanita dewasa pafa umumnya adalah jatuh cinta. Menikah. Hamil. Kemudian melahirkan anak. Artinya menjadi ibu adalah salah satu hal yang ditunggu-tunggu oleh kaum wanita. Hanya saja namanya kehidupan. Tidak semua yang diinginkan harus terwujud seketika.

Di dalam buku ini. Anda akan mendapati sejumlah kisah para ibu dalam memperjuangkan kehadiran buah hati. Mereka menempuh ikhtiar. Melalui berbagai terapi. Berdoa dengan ikhlas. Bahkan menghadapi cibiran dan sindiran. Semoga Anda dapat memetik hikmah dari kisah para ibunda di dalam buku ini.

*

Saya mewek dari halaman pertama membaca buku ini. Kisah para penulis bukan saja menyentuh. Tapi menggores hati siapa saja yang membaca. Khususnya bagi para wanita menikah yang sedang memperjuangkan perut buncit.

Ada berbagai macam kisah yang dihadapi oleh para ibu di dalam buku ini. Tentunya seputar penantian dan perjuangan mendapatkan buah hati.

Tiupan Tuhan (Ata Hiktri) bercerita tentang jarak, keguguran dan keihklasan. Dia mendapatkan amanah justru ketika dia benar-benar ikhlas dengan kondisinya. Hanya dengan mengingat sebuah perkataan ulama yang pernah dia baca entah dimana.

“Hajatmu akan Tuhan itu jauh lebih besar daripada hajatmu kepada semua hal yang kau minta dalam doamu kepadaNya.” (Halaman 20).

Menanti Waktu Tuhan (Bernadine Aditya S), harus melewati berbagai perawatan medis untuk bertahan hidup. Jangankan untuk berharap ada kehidupan di dalam rahimnya, untuk hidupnya pun sulit. Belum lagi cibiran orang sekitar tentang dia yang belum diberi keturunan. Keyakinannya pada Tuhan yang membuat dia bangkit dan mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mudah.

Air Mata Kehidupan (Dian Trisnawati), bercerita tentang bagaimana trauma pada kehamilannya. Ia baru menjadi ibu pada usia 35 tahun, pernikahan keenam tahun.

Dari semua kisah yang ditulis. Tidak pernah saya merasa seterpukul, sesakit, sesedih, dan baper. Di dalam buku ini saya juga menulis sebuah cerita, berjudul “Dear Ayesha”.

Bercerita tentang sebuah surat yang ingin saya share ke sosmed di hari prediksi lahir anak pertama yang gagal. Ya, gagal. Karena tepat pada hari ibu di tahun 2016, saya pun terus diteriaki dengan kata-kata, “Kamu calon ibu gagal.”

Disampaikan dengan kata-kata berbalut simpati. Padahal penuh duri. Sakit, sedih, dan berbagai rasa yang tidak bisa saya ungkapkan. Belum lagi di masa penyembuhan orang-orang yang katanya berniat baik juga terus bertanya dan mendikte untuk berobat ke sana kemari. Mereka tidak mau tahu saran dokter saya untuk bertahan selama enam bulan agar kondisi fisik benar-benar siap. Yang mereka tahu, “Si ini setelah keguguran, nggak nunggu lama langsung isi lagi.”

Rasanya ingin saya teriak, “Helooo!! Kau pikir Tuhan itu bisa kau atur!”

Belakangan ketika saya membaca lagi tulisan ini, saya menangis. Saya baru sadar, seberat ini hari-hari yang saya lewati sebelum @agha.arnis menjelma menjadi malaikat kecil.
Membaca buku ini, saya merasa seperti dipertontonkan sebuah film tentang kehidupan istri dan dilema dalam masyarakat. Dimana saya juga mengambil andil dalam memerankan salah satu tokoh di sana. Meskipun mengatakan peran protagonis, sesekali tanpa saya sadari, saya juga punya andil menjadi pemeran antagonis.
Apa yang para ibu hadapi di buku ini juga pernah saya hadapi. Juga teman-teman wanita yang masih diberikan kesempatan berkarya dan berbulan madu. Kami pernah terluka dengan semua kata-kata tak enak. Kata-kata yang melawan takdir. Terkadang sanggup dibalas dengan senyuman, seringnya berakhir dengan air mata.
Saya punya satu pertanyaan untuk mereka yang suka bertanya, “Apa sih untungnya bertanya ‘udah isi?’ Atau ‘Kok belum isi?’ Atau ‘Jangan tunda lagi. Ntar gak dikasih lagi sama Allah.’ Atau yang lebih menyakitkan, ‘Enak lho punya anak. Memangnya kamu gak mau?’ Untuk apa pertanyaan ini diajukan?”
Apakah yang terjadi saat ini kehendak mereka? Tidak. Mereka memiliki rindu dan mimpi yang sama dengan para istri lainnya. Tidak perlu diperpanjang. Karena Tuhan selalu punya skenario berbeda untuk hambaNya.
Jika keadaan dibalik. Apakah kita sudah pasti sabar berada di posisi yang mereka hadapi? Mungkin, kita sedikit lebih intropeksi diri.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *