Bibliolive

Near; Sahabat Jadi Cinta?

Nggak tahu kenapa, begitu melihat buku ini di feeds para #bookstagrammer saya langsung jatuh cinta. Padahal ilustrasinya sangat sederhana dan saya bukan fans kuning. Tapi sangat menggoda, sampai ngikutin give away di semua host #bookstagram demi novel ini.

Dan begitu baca novelnya sendiri, memang nggak sia-sia. Ini beneran apa yang saya mau.

Judul Buku: Near • Penulis: Citra Novy • Penerbit: Moka Media (Jakarta: Cet 1, 2018) • Tebal: vi+308 halaman • ISBN: 978-602-61543-8-5

Bermula dari putih abu-abu, antara Alega dan Shanina. Remaja SMA yang bersahabat dan selalu saling mendukung. Dia, Alega, seorang laki-laki dengan sikap dingin yang memiliki pemikiran sederhana. Sedangkan, Shanina merupakan gadis rajin yang sering berpikir rumit.

Kota Bandung, mempunyai beragam cerita tentang mereka berdua. Mulai dari halte bus, bangku sekolah, rautan pensil, tali sepatu, dan kotak bekal yang membuat cerita ini ada. Juga, tentang rasa yang mulai tumbuh di antara kedekatan keduanya. Seperti pensil yang selalu membutuhkan rautan, dan rautan yang tidak berguna tanpa adanya pensil. Mereka, sedekat itu awalnya. Sebelum semuanya berubah karena sikap dingin Alega yang menciptakan jarak. Namun, ini bukan sekedar jarak, melainkan tentang rasa yang tumbuh dan sedikit mengganggu.

Lalu, bagaimana rasa itu kini? Apakah Alega akan tetap bertahan dengan dinginnya? Atau mungkin kenangan di antara mereka berhasil mencairkan keadaan yang ada?

*

Alega dan Shanina bukan saja sekelas, bersahabat dekat, saling menjaga dan melindungi. Mereka juga kos bareng. Dalam artian Ale ngekos di kosan Nina. Saking dekatnya mereka, hampir tidak ada rahasia lagi di antara keduanya.

Nina punya kunci kamar kos Ale. Ale tahu benar kapan waktu istimewa Nina. Padahal keduanya punya sifat yang bertolak belakang. Ale si heart breaking, dan Nina si extrovert.

Di mata teman-teman dekatnya (Risa, Aldi, dan Rizki) Ale lebih pantas jadi ayah Nina dari pada sahabat. Ya, sahabat! Sampai urusan cewek yang akan dikencani Ale pun Nina tahu. Begitu sebaliknya, Ale tahu siapa yang layak mengajak jalan Nina.

Sampai nama A’ Dimas masuk di antara Ale-Nina. Nina tidak menceritakan tentang A’ Dimas pada Ale karena takut di “cie” oleh Ale. Ale pun merasa Nina sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tapi dia pun sedang dekat dengan Iren. Gadis yang menurutnya berbeda dengan gadis lain yang kerap mendekatinya dan berujung patah hati.

Tapi melihat A’ Dimas dan Nina jalan bareng tak ayal membuatnya menjadi sosok posesif. Menyebalkan. Dia menjelma sebagai cowok yang menjengkelkan sekali. Ale mulai bingung dengan perasaannya. Untuk dideteksi sebagai cinta pun terlalu prematur.

Ale merasa perlu menguji hatinya. Dia mendatangi Nina dan berkata, “Kalau kamu… Suka atau ada niat suka sama aku, aku mohon, jangan, ya?”

Bikin baper nggak, Olivers? Kira-kira kenapa Ale bicara seperti itu pada Nina? Padahal jelas-jelas kalau dia menunjukkan pada A’ Dimas sebagai cowok paling dekat dengan Nina.

Seratus halaman kedua, bagian tengah, sudah memasuki konflik nyata antara Ale dan Nina. Persahabatan mereka diuji dengan cinta.

Ale nembak Iren yang katanya baik. Ultah Iren dan Nina juga beda satu hari. Dia bahkan mempersiapkan hadiah spesial buat Nina tanpa meminta orang tuanya. Dia bekerja sebagai barista di sebuah cafe. Tapi yang diketahui oleh teman-temannya, Ale sibuk pacaran dengan Iren. Sampai dia tidak punya waktu untuk mereka. Bahkan Nina pun mendadak menjadi pengangguran.

Perubahan Ale berdampak sangat besar buat Nina. Ada rasa cemburu. Curiga. Bahkan dia pun merasa tersingkirkan oleh Iren. Hal yang paling mengecewakan justru ketika detik-detik ultah Nina di kamar kos Ale yang mereka jadikan basecamp. Ale tidak datang. Dia menjanjikan jam 12 tepat akan datang.

Ketika Ale kembali ke kos, tidak ada lagi teman-temannya. Hanya ada sebuah kue, cemilan, dan bekas kertas kado. Boneka beruang besar yang akan diberikan oleh Nina malah tergeletak begitu saja. Hari ini dia datang terlambat. Jadi terpaksa tambah jam kerja hingga jam 1 malam. Sampai ke kos jam 2 malam.

Ketika Nina mencari Ale ke kosnya. Dia bertemu Iren yang sedang memeluk boneka beruang itu. Tanpa permisi pada Ale, boneka itu malah dibawa pulang oleh Iren. Demi mengobati rasa bersalahnya, Ale membelikan cupcake dan lilin. Kemudian membeli lampu belajar untuk Nina sebagai hadiah ultah.

Ale berharap mereka akan baik-baik saja. Ya, apa lagi yang diharapkan oleh Nina? Ale sudah punya Iren. Tapi Ale tidak siap posisi dia digantikan oleh cowok lain. A’ Dimas nembak Nina. Di depan umum, di sebuah cafe. Keempat sahabat Nina menjadi saksi. Termasuk Ale.

Belum lagi hubungan Ale dan Iren juga tidak berakhir baik-baik saja. Iren mulai sering marah-marah karena merasa tidak diperhatikan. Terutama ketika Ale lupa mengucapkan selamat ultah pada Iren. Awalnya, Ale pikir Iren sudah menemukan sesuatu yang rahasia pada boneka beruang itu.

Apa yang disembunyikan Ale untuk Nina di boneka beruang itu?

“Ketika aku sadar kalau bahwa aku suka sama kamu, aku sayang kamu, bisa-bisa saja aku takut. Aku takut hubungan kita berakhir nggak baik karena aku yang mudah bosan, aku begitu takut mengecewakan.” -halaman 291.

Hah?! Apa yang terjadi setelah Ale berniat menembak Iren?

Yach, bagian ini memang paling bikin baper. A’ Dimas pada akhirnya juga nembak Nina di cafe. Di depan umum. Bagian yang sangat sinetronis sekali. Tapi ya begitu. Seperti kebanyakan cerita remaja lainnya. Tokoh utama perempuan juga sedikit tersakiti.

Persahabatan mereka kacau. Tepatnya antara Nina dan Ale. Ale mulai menunjukkan tanda-tanda menjauh. Bukan itu saja. Dia juga mulai ‘nekat’ menyakiti perasaan Nina. Padahal niatnya bukan begitu.

Ini seratus halaman kurang bagjan terakhir yang mengaduk emosi pembaca. Bagi yang pro Ale, tentu saja akan mendukung dengan sikap Ale. Sementara bagi yang pro Nina, lebih memohon agar Nina berusaha membuka hatinya untuk A’ Dimas.

Sebenarnya, di antara kedua mereka ada perasaan nggak sih? Seberapa dalam?

Bagian ini kita bahas di final review besok, ya. Tapi memang lebih afdhal kalau kalian langsung ke toko buku, ambil, ke kasir, bayar, bawa pulang bukunya, baca. Agar kebaperan yang saya rasakan tertular.

Intinya, saya suka sekali gaya penulisan dengan sudut pandang orang ketiga yang ditulis oleh kak @citra.novy ini. Saya melihat dari sisi Ale. Juga melihat dari sisi Nina. Ada timbal balik sudut pandang yang mengalirkan plot cerita.

Setelah menamatkan novel ini, saya tidak se-excited sebelumnya. Cerita ngalir begitu saja. Konfliknya juga begitu adanya. Ringan. Cocok sekali buat remaja yang tidak suka bacaan berat.

Saya lebih banyak menemukan kisah tentang anak sekolahan daripada anak kos. Well, memang kisahnya tentang persahabatan yang banting stir jadi cinta, sih. Tapi justru kekuatan persahabatannya nggak begitu terasa di sini.

Jika diibaratkan dengan minuman favorit saya, caramel frappucino. Rasa esnya lebih terasa dibandingkan dengan caramel, whipped cream, apalagi kopinya.

Jika peran Aldi, Rizki, dan Risa sedikit ditekan sebagai peran pembantu sebagai sahabat. Mungkin saya akan susah move on dari kisah ini. Walau begini, harapan saya masi besar jika novel ini bisa difilmkan. Biasanya, adaptasi dari film akan ada beberapa bagian yang ditekan lebih baik untuk mendapatkan feel visual.

Saya sedikit terganggu dengan masalah teknis pengetikan. Meskipun layoutnya sangat menarik. Fontnya bersababat dengan mata. Tapi ada sederetan kata yang merapat karena pengaruh program yang digunakan. Ini sangat menngganggu meskipun masih bisa dibaca. Penyuntingan naskahnya kelewatan di beberapa bagian.

Harapan saya untuk novel ini sederhana. Selayaknya jika akan dicetak ulang, penyuntingannya harus lebih detil lagi.

Anyway, selamat buat  @citra.novy dan membaca novel ini, saya penasaran sekali dengan kelima novel sebelumnya. Besar keinginan untuk membaca novel yang lain juga.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *