Bookish

Literasi Aceh; Sejak Old Hingga Now

Tahukah Anda literasi Aceh zaman old (masa lalu) dan zaman now? Hmm.. Sudah pasti lembaran sejarah mesti dibuka. Sejarahlah yang mencatat bagaimana aktivitas literasi pada masa lalu berkembang sehingga mewariskan kisah-kisahnya bagi masyarakat Aceh yang hidup di era kekinian.

Dalam konteks ini, literasi tentu saja harus dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mengolah dan mmahami informasi saat melakukan aktivitas baca dan tulis. Artinya, literasi adalah proses menggunakan, memahami, melibatkan, menganalisis, dan melakukan transformasi teks. Jadi, bukan sekedar baca dan tulis. Ia bukan “read and write” unsikh, bukan pula “baca ngoen tuleh” mantong.

Berdasarkan hal itu, pencatatan sejarah literasi di Aceh pasti telah melewati masa ini, yakni masa ketika ulama dan cendikiawan masa lalu mengumpulkan berbagai macam noktah pengetahuan dan melakukan analisis sebelum membukukannya. Proses literasi yang melibatkan kemampuan memahami, menganalisis, dan transformasi teks itulah yang menyebabkan karya-karya penulis Aceh terdahulu sangat visioner dan kontekstual sehingga masih terpakai hingga ke masa sekarang. Lihatlah, kitab-kitab mereka masih tersimpan dan masih bisa diakses dengan mudah di banyak dayah salafiyah di Aceh.

Manuskrip karya ulama Aceh yang ditulis abad ke-17 hingga 19 Masehi sudah membuktikan kegemilangan aktivitas literasi pada masa itu. Beberapa kitab malah ditulis dalam aksara khusus, yakni bahasa Aceh berhuruf jawoe (jawi). Salah satu manuskrip yang sangat merakyat yang hingga kini masih beredar adalah Hikayat Prang Sabi, sebuah karya literasi yang mampu mentransformasikan teks dengan energi dan spirit perlawanan terhadap penjajahan. Ia mampu menceritakan visi tentang surga, menumbuhkan solidaritas, dan mengukuhkan identitas masyarakat Aceh.

Bahkan bukan cuma hikayat Teungku Chik Muhammad Pante Kulu itu saja. Menurut H Muhammad Amin, pimpinan Dayah Al-Madiinatuddiniyah Babussalam, Blang Blahdeh, Bireun, kitab Masailal Muhtadi ikut memberi kontribusi terhadap kesadaran sejarah, kepedulian sosial, dan sikap berislam masyarakat Aceh tempo dulu. “Karena kelebihannya, di masa lalu kitab Masailal diwajibkan dalam pengajian di meunasah-meunasah (surau –red). Di sini pulalah timbul fanatisme orang Aceh yang sangat tinggi terhadap Islam,” ujar pemilik lakap Tumin ini kepada Fairus M. Nur Ibrahim dari Tabloid Iqra’.

Masailal Muhtadi yang dimaksud Tumin merupakan kitab klasik karya ulama Aceh pada abad ke-17, Daud Ismail bin Agha Musthafa Ar-Rumi (Daud Rumy) yang merupakan murid Syiah Kuala (Abdurrauf As-Singkili). Kitab ini telah dicetak berulang kali, bahkan sampai sekarang masih diperjualbelikan di banyak toko buku serta tersebar di berbagai tempat, terutama di gampong-gampong dan dayah-dayah. Masailal menghimpun berbagai dasar pelajaran Islam, baik terkait hal-hal bersifat ‘ubudiyah maupan hal-hal bersifat akidah. Karya literasi ini ditulis secara sistematis dengan cara bertanya-jawab.

Dari bukti-bukti ini, bisa dibilang, perkembangan literasi Aceh tempoe doeloe sudah sangat maju. Tentu saja ada faktor pendukung yang menjadi penyebab. Pertama, pesatnya perkembangan lembaga pendidikan tinggi yang mampu melahirkan kaum terpelajar dan cerdik cendikia. Periode ini dimulai pada era Ali Mugayatsyah (1511-1530 Masehi) dari Dinasti Samudra Pasai. Pada masa itu pula perguruan tinggi bernama Jami’ah Bayt Ar-Rahman (Universitas Baiturrahman) berdiri.

Kedua, sultan-sultan Aceh pada pertengahan abad ke-17 merupakan pecinta ilmu pengetahuan, khususnya bidang tasawuf dan sastra. Banyak pula ahli agama dalam periode ini mampu menulis sastra keacehan bernapaskan Islam. Pengaruh karya-karya mereka pun masih diwariskan hingga kini.

Ketiga, kejayaan Kerajaan Samudera Pasai. Kejayaan ini memberi pengaruh besar terhadap aktivitas literasi. Kerajaan mampu mengimpor alat tulis dalam jumlah besar sehinggakzrtas, tinta, hingga buku-buku berharga mahal tetap dapat dinikmati meski hanya berporos pada orang-orang tertentu. Pada masa ini banyak buku berkualitas diimpor dari Persia.

Keempat, akibat perkembangan pesat sufi dan tarikat yang dilandasi oleh kuriositas para ulama terhadap ilmu pengetahuan. Semakin dekat dengan ketakwaan, semakin dalam hasrat mereka untuk mempelajari dan kemudian menuliskan pengetahuan itu dengan cita rasa sastra yang tinggi agar dapat dinikmati oleh masyarakat dan pengikutnya.

Perubahan Zaman

Zaman berganti. Jika aktivitas literasi era Samudera Pasai dan beberapa masa setelahnya lebih ditekankan pada fungsi serta pengembangan bahasa dan ilmu, literasi di zaman now tampaknya lebih terfokus pada keterampilan dan media.

Dimensi fungsi, keterampilan, dan media akhirnya berkolaborasi menghasilkan generasi baru yang kreatif dalam menikmati literasi. Lihatlah, di kalangan generasi milenial Aceh saat ini, penggunaan perangkat teknologi telah menjadi aspek menonjol dalam aktivitas baca tulis. Dengan mudah anak-anak muda Aceh menemukan informasi melalui perangkat smartphone mereka. Pemanfaatan teknologi sebagai media membaca, menganalisis, dan menulis sebuah teks akhirnya bermetamorfosis menjadi bagian dari sejarah perkembangan literasi Aceh. Munculnya platform seperti blog, wattpad, Whatapps, dan Steemit, juga bentuk lain penyesuaian aktivitas literasi dengan perkembangan zaman.

Fenomena ini rupanya ditangkap oleh Dr Wildan MPd. Ia kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. Dalam pandangan pria ini, teknologi informasi yang kini berkembang tak cuma memudahkan dalam memperoleh informasi, tetapi telah pula mendekatkan jarak antara pembaca dan penulis selaku pemberi informasi. “Jika dulu hanya bisa mengagumi penulis, pembaca sekarang bahkan bisa berinteraksi dengan penulisnya melalui media sosial,” tutur Wildan.

Itu sebabnya, sejak menjadi “petua” di dinas yang sangat erat dengan urusan literasi, Wildan punya hasrat menumbuhkan budaya literasi di Aceh dengan memanfaatkan teknologi informasi. Ia ingin melahirkan perpustakaan digital bagi penikmat literasi atau pemburu informasi di Aceh.

Dalam kacamata Wildan, potensi menjadikan literasi sebagai budaya bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi digitalisasi dan inovasi perpustakaan. Berbeda dengan zaman old, katanya, di zaman now buku sudah menjelma dalam bentuk maya sehingga mudah dibawa kemana saja. Perpustakaan pun bukan lagi tempat utama mencari informasi atau melihat katalog buku. “Sekarang, daftar koleksi buku dan isi dari buku itu dapat diakses hanya melalui ponsel.”

Wildan benar. Ruang perpustakaan tidak lagi sebagai tempat utama bagi pencari informasi, bahkan ilmu. Di kampus-kampus, banyak perpustakaan terlihat kerap menjadi tempat berkumpul sejumlaj mahasiswa yang membuat tugas kuliah -termasuk skripsi- sambil berWifi ria. Artinya, informasi tidak diburu dengan membuka buku perpustakaan, tetapi melalui jejaring maya yang ada di dalam laptop maupun smartphone mereka. Di sanalah pemburu informasi mengakses berbagai bahan literasi digital seperti buku elektronik (e-book), e-journal, berita online, bahkan komik digital.

Sejauh ini memang belum terdapat data valid tentang urgensi dzn seberapa besar potensi penikmat literasi digital di Aceh. Tidak ada pula data statistik yang menunjukkan sebaran minat penikmat literasi berbagai wilayah di Aceh, apakah lebih banyak menyukai jurnal, buku agama, informasi politik, atau bahan bacaan terkait life skill dan sastra?

Belum ada data-data yang benar-benar valid tentang semua itu. Maka, yang diperlukan adalah “daya tarik” tentang bagaimana menumbuhkan budaya literasi dengan gaya dan cara “kidz zaman now”. Dengan demikian, kesan bahwa buku adalah barang kuno dalam perpustakaan yang sunyi bisa dengan mudah ditepis,” imbuh Wildan.

Pun begitu, urgensi perpustakaan sebagai sarana pendidikan modern tak perlu ditampik oleh penulis buku Nasionalisme dan Sastra ini. Yang perlu dilakukan, katanya, adalah merancang manajemen perpustakaan yang memiliki daya tarik sehingga menjadi tempat menyenangkan dan dirindui untuk selalu dikunjungi. “Dengan daya tarik perpustakaan, bisa berupa layanan, inovasi program, fasilitas pengunjung, dan dukungan teknologi untuk mengakses bahan bacaan, anak-anak muda di Aceh dapat semakin dekat dengan bacaan-bacaan yang lebih berbobot.”

Agaknya, digitalisasi yang digagas Wildan ini nantinya bakal menjadi demarkasi yang tegas antara budaya literasi Aceh zama’ old dan literasi di era “kidz zaman now.” Nah!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *