Bibliolive

Mahar Untuk Maharani; Sarjana Rela Menjadi Petani Kangkung

Judul Buku: Mahar Untuk Maharani • Penulis: Azhar Nurun Ala • Penerbit: Lampu Djalan (2017) • Tebal: 248 halaman • ISBN: –

“Baginya cinta itu sederhana;  membina hidup dengan pasangan yang sejiwa. Dan karena itu jodoh juga sederhana; kelak ketika dia siap, ia akan mencari perempuan shalihah yang mendukung perjuangannya, dan ia akan langsung menikahi perempuan tersebut.” -halaman 69.

Bagian visi Ajran ini adalah bagian yang menentukan isi cerita Mahar Untuk Maharani secara keseluruhan. Ini menurut saya, mungkin pembaca lain juga punya sudut pandang sendiri. Perbedaan itu anugerah, bukan?!

Meskipun cerita ini berpusat pada Salman yang jatuh cinta pada teman masa kecilnya, Maharani, ada intrik-intrik lain yang terselip dalam cerita.

Bermula ketika Salman pulang kampung dan bertemu Maharani yang berubah total. Cantik, shalihah, cerdas. Hati Salman kebat kebit. Apalagi Maharani yang Salman kenal dulu sangat tomboi, sekarang dia sedang dekat dengan teman mereka lainnya. Dimas namanya. Dimas yang dia kenal pun berubah menjadi sosok yang pantas untuk pendamping Maharani. Tapi Salman tidak rela. Karena Maharani lebih pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik. Bukan Dimas yang kerap gonta ganti pasangan semudah ganti baju. Bahkan Dimas yang telah membunuh Budi, ayam jagonya.

Perjuangan Salman tidak mudah. Untuk menaklukkan Rani, dia harus menaklukkan hati Pak Umar, ayah Maharani. Lelaki yang kerap mengungkit-ungkit skripsi sebagai penghalang. Lelaki yang masih memandang suku Sunda atau Jawa selalu menjadi pilihan dalam pernikahan.

Ia kembali ke Jakarta, menyelesaikan skripsi yang dibantu oleh Nabila yang sudah berjilbab. Demi Maharani yang sholehah, dia juga mencoba memantaskan diri untuk Maharani. Salman rela mondok. Belajar agama, menghapal qur’an perlahan. Demi Maharani, dia berubah menggapai hidayah.

Salman berjuang untuk mendapatkan Maharani yang diam-diam dijodohkan dengan Dimas, teman kecilnya. Demi membuktikan dia pantas untuk Maharani, dia juga harus menunjukkan bahwa dirinya pantas secara finansial. Sama seperti Dimas. Ternyata menjadi seperti Dimas tidak mudah. Dia justru menghadapi berbagai dilema yang umumnya dihadapi oleh pejuang mahar.

Di bagian lain dan jauh dari dunia Salman, ada Ajran Kabiran yang terus menerus mencari Dr. Koswara, doktor bidang pertanian yang menemukan nutrisi hebat untuk menyelamatkan petani Indonesia. Lama sekali mereka berjuang mencari sang doktor. Untungnya pencarian mereka berakhir manis. Dia dan sahabatnya bisa mencari dan mendirikan perusahaannya sendiri.

Ajran pula yang menjadi malaikat penolong untuk Salman. Tapi keluarga Maharani tetap keberatan menerima calon menantu yang akan menjadi petani. Alalagi panen pertama Salman tergolong gagal dalam segi pemasaran. Sehingga bukan keuntungan melebihi gaji Dimas yang dia dapat. Tapi kerugian.

Di saat Ajran kembali menolongnya dengan strategi bisnis, dia malah mendapatkan kenyataan lain. Ajran melamar Maharani. Di hari yang sama Dimas malah melakukan lamaran dengan perempuan lain yang seorang mualaf.

Mahar Untuk Maharani, novel karya Azhar Nurun Ala. Buku kedua yang saya baca setelah Pertanyaan Tentang Kedatangan. Katanya novel ini sudah mendulang best seller sebelum terbit. Dari segi judul memang menggoda. Penasaran.

Bagi saya, novel yang katanya sudah ditunggu oleh pembaca ini tidak begitu menggoda. Terutama setelah membaca bab awal. Saya justru bosan dengan cerita Salman yang bertele-tele. Separuh isi novel tidak menarik.

Memasuki pertengahan novel hingga akhir, di bagian ini baru kisahnya mulai menarik. Terutama ketika Salman mulai serius memantaskan diri untuk Maharani. Dia juga mondok demi menjaga diri. Perjuangannya mendapatkan pekerjaan dan menyelesaikan skripsi memang tidak dibahas detil. Tapi saya paling syok saat Salman yang merasa gagal memutuskan komunikasi dengan Maharani.

Sayangnya, ending kisah ini tampaknya terlalu dipaksakan. Terlalu tiba-tiba. Padahal jika dilanjutkan sekitar empat atau lima bab pendek-pendek lagi, saya yakin novel ini akan semenggoda judulnya.

Saya bukan pembaca lama Azhar Nurun Ala. Tergolong baru. Mengenalnya melalui adik ipar yang fans Azhar Nurun Ala. Bisa dikatakan, saya membaca buku-buku Azhar Nurun Ala karena adik ipar saya ini. Dia mengoleksi empat novel yang dia beli di bedah buku.

Tentunya saya yakin tidak akan terlihat berat sebelah jika dikatakan hanya memuji novel dari penulisnya saja. Ada beberapa hal unik yang merasa ‘wah’ ketika membaca.

Pertama, data-data pertanian. Disajikan oleh penulis dalam novel ini seperti deskripsi dalam skripsi. Cukup mencengangkan sekaligus membosankan. Di saat pecinta roman sedang baper-baperan dengan kisah cinta Salman Maharani, di saat itu pula harus dikacaukan oleh persentase ketidakmakmuran petani di Indonesia. Tapi saya cukup kagum cara Azhar menggiring Ajran dalam cerita.

Kedua, misterius. Penulis membuat pembaca penasaran. Meskipun ada beberapa bagian yang sudah tertebak oleh pembaca. Saya paling suka bagian Dimas bagikan status di sosial media. Tertuju untuk Maharani, tapi setelah membaca akhir cerita, bisa jadi untuk yang lain.

Ketiga, Budi. Ketika Salman mengungkapkan perasannya tentang ketidakrelaannya Maharani bersama Dimas karena dia adalah pembunuh Budi. Saya agak kaget. Siapa pula si Budi ini. Ternyata dia adalah ayam jago milik Salman. Sama sekali tidak terpikir ayam dinamai Budi.

Keempat, kangkung. Ketika kita membicarakan petani, yang terbayang tentu saja padi. Beras. Di sini Salman menjadi petani kangkung lengkap dengan taktik memanen harian yang bisa diterapkan oleh pembaca. Saya bahkan terpikir jika punya lahan akan menanam kangkung untuk dititipkan pada penjual sayur keliling. Lumayan untuk nambah-nambah beli gas.

Kelima, almost no typo. Ini bisa dikatakan kelebihan dari novel ini. Hampir tidak ada kesalahan pengetikan yang umumnya kita temukan di novel-novel indie. Bahkan terkadang ada juga novel terbitan mayor yang kecolongan.

Ada kelebihan, ada juga kekurangan. Terutama di bagian pemilihan ilustrasi sampul. Salman seorang petani kangkung, kenapa yang dipilih gambar padi? Sepertinya tim buku ini, mulai dari layouter bahkan penulis kekurangan ide dalam proses terbitnya buku ini. Tidak ada salahnya jika cetakan selanjutnya dipilih gambar yang lebih sesuai. Kangkung dan Padi jauh benar peranannya.

Jilidan buku yang saya baca kurang kuat. Ini sudah masuk perkara teknis. Mungkin buku yang Anda pegang perekatnya jauh lebih kuat. Perekatnya rapuh. Masih baru, tapi begitu dibuka langsung krak. Terlepas dari naskahnya.

Anyway, berulang kali ketika saya menulis ulasan tentang buku indie selalu ada selipan pujian untuk si penulis. Terutama bagi mereka yang berani berkarya dan membukukan karyanya dan tidak hanya bertumpuk di rumah. Bagi pembaca, tetap beli buku ori untuk mendukung agar penulis Indonesia tetap berkarya.

Selamat membaca ^_^

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *