"You are Connecting To My Words"

Pertentangan Feodalisme Anak Bangsawan

Pertentangan Feodalisme Anak Bangsawan

Budaya feodalisme tanpa disadari masih mengakar di tanah air. Meskipun perkembangan zaman sudah melewati tahap globalisasi, namun memandang orang lain berdasarkan kelas masih terjadi. Khususnya di kalangan bangsawan Jawa yang memandang bobot, bibit, dan bebet sebagai pertimbangan utama sebelum menikah. Bagi perempuan pun, tingkat pendidikan tidak begitu menjadi pertimbangan sebuah pilihan dalam berkompetisi mendapatkan jodoh. Karena bagi sebagian orang, tugas perempuan hanya berpatut pada 3M; macak (pandai berhias), manak (mempunyai anak), dan masak. Secara umum dikenal dengan dapur, sumur, kasur.

Inilah yang coba ditentang oleh penulis dalam novel berjudul Sekar. Maria A. Sardjono menguraikan tidak seharusnya di era modern ini seorang masih membedakan kelas sosial dalam memperlakukan orang lain. Kisah dalam novel ini berpusat pada Sekar dan Joko, yang hidup bersama sejak kecil, dibesarkan tanpa memandang kelas sosial namun kehidupan memojokkan mereka untuk tetap terjebak pada pengklasifikasian kelas juga.

Sekar adalah anak perempuan semata wayang Mbok Kromo, ibu asuh Joko dan pembantu rumah tangga di keluarga Raden Mas Tumenggung Suryokusumo. Sekar tumbuh sebagai anak cerdas dan cantik. Keberadaannya dan seringnya ia bersama keluarga Suryokusumo menempanya sebagai gadis berkarakter priyayi.

Kebersamaannya bersama Joko perlahan-lahan menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya. Meskipun Joko secara tidak langsung sudah dijodohkan dengan Dewi, anak bangsawan dari Solo. Kecantikan Dewi tidak bisa mengalahkan kecantikan Sekar yang juga terpelajar. Sebagai guru dan calon dosen, dia mempunyai wawasan yang luas. Terlebih lagi, dia juga orang yang enak diajak berdiskusi oleh Joko. Kelebihan yang dimiliki oleh Sekar menggalaukan Joko soal hubungannya dengan Dewi.

Keberadaan Sekar yang selalu menjadi pusat perhatian para teman-teman lelaki Sekar dan Joko memunculkan pertanyaan besar pada diri Joko. Perasaan jenis apakah yang dimilikinya. Ia pun tahu, mencintai Sekar merupakan hal yang tidak mungkin dibenarkan oleh tata hubungan cinta dalam keluarga bangsawan.

Kebiasaan dan posisi masing-masing membawa keduanya untuk melakukan hal-hal biasa. Sampai akhirnya Joko menyadari bahwa Sekar adalah perempuan yang diinginkannya. Bukan Dewi. Dari sebuah momen kerokan yang dilakukan oleh Sekar untuk Joko, memicu pada kebenaran bahwa di antara terbentang sebuah jurang yang dijembatani oleh ikatan selembut sutera. Keduanya menyadari bahwa mereka saling mencintai.

Keakraban mereka selama tiga bulan mengakibatkan kurangnya waktu untuk Dewi. Malah gadis itu memutuskan hubungannya dengan Joko. Perpisahan keduanya justru membawa hubungan Sekar dan Joko ke arah yang membahagiakan. Ibu Suryokusumo mencium hubungan mereka. Ia menolak hubungan keduanya atas nama status sosial yang jauh berbeda. Ia tidak mau memilih Sekar menjadi menantunya. Ia juga tidak mau memilih sekar menjadi menantunya, ia juga tidak mau Mbok Kromo menjadi bisannya. Hanya karena aliran pernikahan feodal yang diwariskan leluhurnya sudah melekat di kepala.

Kondisi tekanan dari ibunya mengantar hubungan cinta Joko dan Sekar lebih jauh. Sekar menyerahkan segalanya pada Joko atas nama cinta. Kemudian ia memutuskan untuk menerima tawaran ibu Joko untuk menjadi selir. Kondisi tekanan batin yang menyiksa Sekar hingga sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Keberadaan Sekar di klinik yang dikelola oleh Joko dan teman-temannya membuka hati ibu Suryokusumo. Ia melihat aliran darah priyayi justru mengalir di diri Sekar yang merupakan anak pembantu. Bukan pada diri Dewi yang lahir dari keluarga bangsawan juga. Ia mulai menyadari, di balik tembok keraton Sekar jauh lebih dihargai sebagai guru yang sukses. Termasuk untuk mengubah perilaku anak-anak dari kalangan atas.

Tanpa memikirkan status sosial lagi, ibu Suryokusumo menerima Sekar sebagai menantu, bukan selir. Budaya feodal yang dipertahankan runtuh seiring dengan terbukanya pemahaman terhadap perubahan zaman.

Maria A. Sardjono dikenal sebagai penulis perempuan yang mengedepankan tokoh utama perempuan dengan segala intriknya. Sekar adalah salah satu novel yang terbit pada tahun 2012 dan termasuk novel yang rangkaian katanya cukup menjemukan.

Novel ini begitu detil menggambarkan intrik kehidupan dua kelas yang saling mencintai. Deskripsinya jelas.  Namun disampaikan dengan cara yang cukup berat. Sesuai dengan jalan ceritanya, novel ini secara tidak langsung memiliki kelas untuk pembaca. Lebih mudah dipahami dan pantas dibaca oleh kalangan berpendidikan menengah ke atas.

Kekurangan novel ini hanya di beberapa bagian pengulangan yang dilakukan penulis. Khususnya dibagian penggambaran sosok Sekar yang jelita di mata Joko.

Novel ini direkomendasikan untuk para mahasiswa sastra dan para pembaca yang melihat status sosial adalah segalanya. Dalam novel ini juga diamanatkan bahwa apa yang terlihat dari luar tidak menjadi patokan untuk jaminan segalanya.

 

Data Buku

Judul Buku: Sekar | Penulis: Maria A. Sardjono | Penerbit: Gramedia (Jakarta: 2012) | Tebal: 320 halaman | ISBN: 978-979-22-8717-2



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *