Bibliolive

Ketika Mereka Tidak Berhenti Bertanya

Judul Buku: Pertanyaan Tentang Kedatangan [] Penulis: Azhar Nurun Ala & Vidia Nuarista [] Penerbit: LampuDjalan (2017) [] Tebal: 131 halaman [] ISBN: –

 

“Kapan punya anak?” Pertanyaan yang kerap ditanyai oleh para teman, kolega, bahkan saudara. Kapan?

Seolah tidak cukup perubahan wajah orang yang ditanyai pertanyaan atau komentar lainnya menyusul. Kata-kata mengiris dan menggarami terus dilontarkan setiap hari. Siapa yang tidak mau mendengar tangis bayi dengan segera setelah menikah. Semua orang mau, tapi Allah memilih orang-orang yang sudah mapan hatinya dan cukup kebersamaannya terlebih dahulu untuk menjadi orang tua. Dan menunda bagi pasangan yang melewatkan masa muda dengan produktif berkarya untuk ‘berpacaran’ setelah halal.

Buku ini mengungkapkan perasaan pasangan penulisnya. Ketika keduanya dirongrong pertanyaan tidak penting tapi sangat mengganggu hari-hari mereka setelah menikah.

Kapan wisuda?

Pertanyaan ini saja tidak cukup untuk membebani sang penulis. Tetap ada susulan pertanyaan lain.

Kapan punya anak?

Ada banyak alasan sebagai jawaban Azhar menunda menyelesaikan kuliah di juruaan Ilmu Gizi Universitas Indonesia. Salah satunya karena kesibukan sebagai pemateri dan bedah buku. Dari sini pula dia menghidupi istri dan dirinya. Termasuk biaya program kehamilan yang mereka lakukan. Dananya tidak sedikit. Selama dua tahun lebih, hasil penjualan buku adalah sumber nafkahnya.

Buku yang ditutup dengan epilog tulisan sang istri mencuri perhatian saya untuk bertahan membaca sampai habis. Kata siapa buku indie nggak ada yang bagus? Pertanyaan Tentang Kedatangan memberi satu jawaban bahwa buku indie juga bagus.

Menghabiskan waktu bersama Alexa (anak yang ditunggu dengan berbagai pertanyaan juga), jarang sekali saya menamatkan buku satu eks dalam seminggu. Buku ini saya baca dalam tempo dua hari. Selain bukunya memang tipis (131 halaman). Bagi saya buku tipis mudah menargetkan untuk selesai. Gaya bahasa Azhar Nurun Ala juga cetar. Enak dibaca dan dimengerti. Tidak terlalu berbunga-bunga.

Ada nilai yang tidak bisa saya hapus dari benak saya setelah membaca. Apapun yang terjadi adalah hak Allah. Allah tidak akan memberi ujian kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuannya. Setiap penundaan selalu ada hikmahnya.

Buku ini juga menyadarkan saya bahwa tidak ada yang salah dengan penerbitan buku secara indie. Toh setiap buku ada pembacanya. Terutama bagi mereka yang selalu dilingkupi oleh pertanyaan tidak penting. Mungkin curhatan si penulis ditolak oleh penerbit mayor. Dianggap tidak marketable. Menerbitkan secara indie adalah solusi menenangkan hati dan mematahkan setiap pertanyaan tidak penting itu.

Ini pula yang secara tidak langsung disentil oleh penulis. Ketika kegelisahan sang istri yang semakin depresi dengan pertanyaan-pertanyaan aneh itu. Vidia memilih menjual buku-buku sang suami dari rumah. Allah memberi rezeki yang berkah. Berlimpah. Kekompakan dalam berkarya justru menendang jauh kalimat yang mengatakan ‘Menulis tidak akan membuat seseorang kaya.’

Kaya yang seperti apa?

Para penulia diberkahi dengan kaya hati. Dibandingkan dengan mengomel, mengeluh, atau berdoa di sosial media. Mereka mempunyai kemampuan untuk mencuci otak para pembaca dengan ide mereka. Melalui tulisan-tulisan mereka.

Harusnya pertanyaan diganti menjadi, “Kapan Anda punya buku?”

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *