Bookish

Menyicil Bacaan

Saya suka baca buku tebal. Tapi tidak semua buku. Buku yang saya sukai bergenre novel. Penulisnya pun tertentu. Untuk urusan bacaan, di usia saya yang sudah tidak muda lagi mulai sedikit picky. Mau bagaimana, dompet saya juga tidak mudah dikeluarkan belakangan ini.

Berawal dari sulitnya menemukan waktu untuk membaca novel tebal. Saya mulai berpikir untuk membaca novel tipis saja. Itu pun tidak bisa saya selesaikan dalam waktu sesingkatnya seperti dulu-dulu. Jadi saya hanya memilih novel yang penulisnya saya sukai saja. Inilah asal mulanya saya mulai menjadi picker.
Belakangan saya mulai mengobok-obok lemari buku. Mengumpulkan novel-novel yang belum pernah saya baca. Ternyata lumayan banyak. Padahal novel-novel itu saya beli ketika saya masih muda dan produktif menulis dan mendapat honor. Uangnya pasti saya sisihkan beberapa persen untuk membeli buku baru.
Terkadang saya sampai bingung harus membeli buku apa ketika masuk di toko buku. Semua stok mereka sudah saya beli dan koleksi. Hanya membacanya yang belum.
Ketika saya hijrah ke Beijing, koleksi saya bertambah. Ada novel versi bahasa Inggris dan mandarin. Semua novel itu pun tidak lantas saya baca. Versi bahasa mandarin, jelas saya tidak mampu membacanya. Versi bahasa Inggris, terlalu banyak kosa kata baru yang harus open dict. Alhasil, koleksi menumpuk dan tidak terbaca.
Ketika saya memutuskan untuk bergelut di dunia bookstagram dan book blogger, ada perasaan yang menggelitik asyik. Seperti ada bisikan yang memaksa saya membongkar lemari buku dan menyisihkan mana saja yang belum terbaca. Lalu membuat target menamatkan satu persatu buku itu. Biar tambah semangat, tidak lupa memotretnya dengan seni fotografi dan membuat ulasannya di blog.
Saya sempat terpikir platform apa yang harus saya  gunakan untuk mengulas buku-buku itu. Di blogspot kah? Kompasiana kah? Instagram kah? Atau di sini?
Jawaban itu baru muncul awal Mei 2018. Saya menemukan beberapa book blogger. Tulisannya apik, postingannya oke, mereka juga pakai domain sendiri. Bukan domain gratisan. Followernya di instagram juga banyak. Semakin tampak jika kualitas book blogger ini memang tidak main-main. Ini kerjaan berkelas kalau ada yang bilang baca buku dan menulis blog itu kerjaan pengangguran.
Bayangkan, semakin populer dia, semakin banyak pula buku ia dapatkan cuma-cuma. Buku-buku di Gramedia atau Gunung Agung ataupun di toko buku lainnya nggak didapatkan dengan dompet tipis, lho. Setidaknya harus ada selembar duit warna biru untuk mengeluarkannya dari rak buku dan plastik segelnya. Mendapatkan paket buku itu sesuatu yang membahagiakan sekali.
Termasuk saya. Bahagia itu ketika mendapatkan paket buku.
Buku-buku terbitan lama yang mulai tidak bergairah saya baca pun harus masuk dalam list bacaan. Saya punya cara untuk mengulasnya dengan mencicil bacaan.
Agar tidak lupa, saya mengecek jumlah bab novel tersebut terlebih dahulu. Kemudian membuat target berapa per berapa bab bagian untuk diulas.
Misalnya pada akhir Maret saya membaca novel Bumi Cinta. Serius! Novel ini bukan genre bacaan saya banget. Saya merasa seperti membaca diktat  kuliah tentang sejarah Rusia di novel ini. Mata jadi cepat lelah dan bosan lebih mudah menguasai saya.
Untuk menyiasatinya saya membagi buku ini dalam empat bagian bacaan. Perbagiannya berisi sepuluh bab. Persepuluh bab ini saya ulas setiap usai membaca. Novel ini tamat, saya punya bagian detil buku untuk dibuat dalam tulisan resensi. Begitu terus saya lakukan untuk buki-buku tebal yang kurang beigairah untuk saya baca.
Cara ini juga saya lakukan dan berlaku untuk semua bacaan. Termasuk buku non fiksi. Keuntungan yang saya dapatkan kedetilan dalam membahas bab per bab. Ketika menulis resensi, saya jadi lebih mudah membahasnya.
Itu cara saya yang bukan seorang ahli dalam membaca. Tentu saja masih banyak cara lain yang lebih menarik untuk dibaca. Jika Anda punya cara, bagikan di kolom komentar berikut, ya, readers.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *