Bibliolive

Cinta Tidak Selalu Egois

Judul Buku : Heart Quay [] Penulis : Putu Felisia [] Penerbit : Gramedia (Jakarta, 2013) [] Tebal : 248 halaman [] ISBN : 978-979-22-9762-1

“Cinta adalah sesuatu yang ajaib. Kadang-kadang begitu egois, namun saat hati semakin terbuka oleh kasih, cinta berubah menjadi sesuatu yang lebih agung. Penuh pengorbanan, ketulusan dan kerelaan.” –Halaman 155

Pernikahan Tiara mengantarkan Zoya Rafika dan Santi ke Singapura. Sebagai sahabat, ia ingin berada di sana untuk menyaksikan hari bahagia sahabatnya. Tapi kebahagiaan yang dia harapkan berubah menjadi petaka ketika lelaki yang akan menjadi pendamping hidup sahabatnya adalah seseorang yang ia kenal baik. Ia sangat familiar, sangat dekat, bahkan sangat mengejutkan Zoya karena pernah hadir dan menjadi bagian dari masa lalu Zoya. Elang, lelaki yang pernah menjadi kekasihnya dan terpisah karena cacat sosial yang ditanggung oleh Zoya Rafika.

Kesedihan Zoya disambut dan diobati oleh Kenneth Yang, anak seorang dokter yang sempat merawat Zoya ketika sakit di Singapura. Hatinya mendarat di dermaga yang tidak pernah ia yakini sebelumnya. Tepat ketika hatinya siap hancur di hari pernikahan Tiara dan Elang. Namun, tidak mudah untuk melupakan kisah pahit dari masa lalu. Apalagi ada pihak-pihak yang terus mengungkit luka lama dan mengingatkan Zoya pada statusnya. Di sisi lain, juga tidak mudah menambatkan hati pada seseorang yang baru ia kenal seminggu di Singapura.

Tapi, bagaimana mungkin rasa nyaman itu meletup-letup dalam dadanya? Ken menyadari ini cinta. Zoya mengakui ia menginginkannya. Terutama ketika persahabatannya hancur dan dia harus menerima kenyataan bahwa Tiara menginginkan Elang melebihi apapun, termasuk dengan menghancurkan persahabatan mereka.

Ya, dan pada akhirnya Zoya menemukan dirinya mengakui bahwa cinta adalah sesuatu yang ajaib. Ia memang harus berlapang dada pada terhadap masa lalu bahwa cinta adalah sesuatu yang egois. Karena ketulusan dan pengorbanan mempertemukannya pada cinta yang agung.

*

Inilah pertama kalinya saya membaca novel Putu Felisia. Meskipun saya berteman dengannya di Facebook, kerap menyukai dan meninggalkan komentar pada statusnya di Facebook. Tidak sekalipun saya menyadari bahwa dia pernah memenangkan Lomba Menulis Amore penerbit Gramedia. Novel Heart Quay ini menggondol juara ketiga.

Alasan pertama saya membeli novel ini bukan karena label juara. Tapi karena penasaran dengan gaya penulisan Putu Felisia. Sebelumnya saya sempat mencari di toko buku seputaran Banda Aceh. Tidak ada. Bahkan di perpustakaan umum pun tidak ada (atau belum dimasukkan dalam koleksi untuk dibaca umum).

Kalimat-kalimat pembuka yang menunjukkan perjalanan ke Singapura menggelitik saya. I love it, sesuatu yang berlatar luar negeri memang menarik. Dan tampaknya Putu Felisia memang sangat menguasai Singapura. Satu catatan kecil untuk saya, Heart Quay juga travelpedia untuk seseorang yang ingin tahu sekilas tentang Singapura.

Ada lagi poin yang membuat saya terkagum-kagum tentang cinta, yaitu… pengorbanan, kehilangan, dan keegoisan memang akan menyisakan rasa sakit berkepanjangan. Tapi cinta akan memberikan hadiah pada orang-orang yang kuat, rasa cinta yang agung dan tidak memilih.

Sekilas gaya penulisan Putu Felisia seperti Ilana Tan. Pemilihan tokoh, sosok yang dipilih untuk tersakiti dan berbagai ‘cengkonek’ dalam novel ini.

Hal yang membedakan Putu Felisia dan Ilana Tan dalam pengamatan saya ada dua hal. Pertama, Ilana Tan memainkan karakteristik dan emosi tokoh secara mendalam. Sementara Putu Felisia belum sedalam itu. Dalam kasus ini saya tidak menangis ketika tokoh Zoya disakiti oleh sahabatnya sendiri di depan mantan kekasihnya. Tapi saya menangis sesenggukan saat tokoh-tokoh Ilana Tan tersakiti.

Kedua, Ilana Tan melakukan riset yang luar biasa tehadap apa yang akan ia tulis. Semua deskripsinya lebih hidup untuk mata pembaca dan imajinasi pembaca terbang ke sana kemari. Ketika menggambarkan tempat tertentu, Ilana seperti menggandeng tangan saya menyusuri kisah hidup dan setting yang dia tuliskan. Putu Felisia masih dalam perjalanan ke level tersebut. Kenapa? Karena saya belum bisa menikmati Singapura seperti Ilana Tan menggambarkan negara asing di tiap novelnya.

Anyway, sebagai pengomentar saya memang lebih mudah menuliskan kata-kata untuk karya orang lain daripada menciptakan karya sendiri. Hingga saat ini belum ada karya saya yang jebol di penerbit Gramedia. Putu Felisia jauh lebih baik daripada saya dan pengkritik lainnya.

Ada satu lagi yang membuat saya tercengang, “Cinta tentang keihklasan. Ketika kau tidak memaksakan cinta, maka cinta yang sebenarnya akan menghampirimu.”

Novel ini tidak begitu tebal, jika Anda pembaca cepat, bisa menghabiskannya dalam sekali duduk. Jika Anda tidak suka cerita romance, saya menyarankan novel ini. tidak ada kisah cinta romantis berbunga-bunga seperti kebanyakan kisah Amor Gramedia. Ibaratnya makanan, porsi lauk dan nasi menu yang dihidangkan oleh Putu Felisia pas seperti yang diharapkan oleh pembaca.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *