Bibliolive

Tahun Terakhir Dena

Sudah lama tidak baca novel remaja. Ketika memulai membaca novel teenlit, berasa kayak dipaksa untuk makan manis padahal lagi diet gula. Akhir-akhir ini saya menikmati novel yang sesuai usia. Kepala tiga, bukan perkara usia, tapi selera mulai upgrade.

Buku terakhir yang saya dari paket Penerbit Diva Press adalah Tahun Terakhir Dena. Buku pertama juga yang saya tamatkan di bulan Mei. Masih ada tiga novel lain yang menanti untuk ditamatkan. Buku dari koleksi lama. Sudah lama beli, tapi belum baca.
Kembali ke Tahun Terakhir Dena, karangan Purba Sitorus. Tidak menyangka jika bahasa si pwngarang sangat mulus. Tidak memakai bahasa anak muda kekinian yang agak membingungkan. Bahasanya umum. Tapi pwmilihan kata dan istilah-istilah yang digunakan sangat kuat. Inilah yang membuat saya bertahan dan jatuh cinta pada halaman pertama.
Suka dengan aksara Purba Sitorus. Itu saja yang akan saya ungkapkan secara sederhana.
Tahun Terakhir Dena bercerita tentang Dena yang sekolah di SMU Harapan. Dia adalah siswa beasiswa yang kastanya rendah di kalangan anak-anak orang kaya. Demi menghindari rumah dan pertengkaran orang tuanya, dia rela melakukan apa saja. Termasuk mengajari Adit yang bandel. Padahal dia cerdas.
Intrik demi intrik muncul dengan sederhana. Masalah yang muncul tidak ribet seperti kebanyaman novel remaja umumnya. Masalah yang cukup dekat dengan remaja. Dalam kasus Dena masalahnya adalah pertengkaran orang tua yang berujung pada perceraian. Kecemburuan sahabat yang tidak rela mendapatkan posisi Cinderella di sekolah. Sampai rela menjadi penjilat demi mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan mengajari Adit, cowok paling bandel dan berpengaruh di sekolah.
Alur dan masalah dalam novel ini cukup dekat denhgan dunia remaja.
Saat saya masih duduk di bangku sekolah pun, intrik dengan kelompok populer juga terjadi. Kami yang berada di ‘kasta terendah’ selalu berpikir bahwa kelompok populer hanya sumber masalah. Sok jago, sok menguasai, sok pintar, kesayangan guru-guru, dan sejenis penilaian negatif lainnya.
Banyak pula yang diam-diam berusaha mendaki status karena masalah intern keluarganya. Saya pernah berhadapan dan menjadi konselor bagi teman saya yang ada masalah dengan keluarganya.
Permasalahan dengan teman juga terjadi di usia ini. Biasanya juga karena cemburu-cemburuan itu. Dan ada seseorang di kelompok populer yang memang peduli pada orang lain. Tidak bisa membuang teman.
Tahun Terakhir Dena melempar saya ke masa berseragam putih abu-abu. Begitu dekat. Bahkan saya bisa membayangkan kehidupan Dena dengan jelas. Seolah saya baru menyelesaikan SMU tahun lalu. Seperti membuka album kenangan setelah meninggalkan sekolah.
Setelah membaca novel ini, secara sengaja saya mengecek ke twitter Purba Sitorus. Agak shock dengan penampakan, tapi terkagum pada permainan bahasanya. Ternyata sudah bapak-bapak. Bahasanya itu luwes sekali.
Secara sadar, novel ini saya rekomendasikan untuk mereka yang suka sekali dengan kisah remaja. Terutama buat mereka yang tidak suka novel remaja, tetapi harus membaca atau penasaran dengan cerita remaja. Tahun Terakhir Dena bisa dijadikan koleksi.
Ada bagian yang agak familiar di novel ini. Adegan foya-foya yang dilakukan oleh teman-teman baru Dena. Terutama Aurel yang mengajak Dena party untuk menghalau masalahnya. Ingatan saya terdampar pada satu film remaja Hollywood berjudul Clique.
Jika umumnya novel remaja penuh dengan kisah cinta-cintaan, novel ini sedikit pun tidak menyinggung ini. Tahun Terakhir Dena lebih mengedepankan kisah persahabatan dan hubungan keluarga dengan setting yang lebih banyak membahas dunia sekolah.
Inilah kenapa saya katakan novel ini seperti makan gula. Bukan gula pasir, tapi gula Jawa. Manis, tidak neg, tapi gak beresiko cepat diabetes (kata orang. Saya belum tahu realitanya).
Warna sampulnya soft. Turquise dengan tulisan putih. Gambar-gambarnya didominasi warna merah jambu dan dusty purple. Klop warnanya. Matching.
Salah satu alasan mengapa memilih buku adalah desain sampul, kan?! Novel ini adalah pilihannya. Harganya tertera di sampul belakang. Mungkin sedikit mahal untuk novel lokal setebal 204 halaman ini. Biasanya novel setebal ini dibrondol di bawah Rp 50 ribu. Novel ini pas Rp 50 ribu.
Ups!
Atau… Saya yang tidak update harga novel lagi, ya?!
Jika kamu sudah baca novel ini, bagaimana menurutmu?

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *