Bibliolive

Murid Dari Sekolah Kentang; Ketika Pendidikan Hanya Sebuah Formalitas

Apa yang menarik dari sekolah bersetting Jepang? Ya, kisah di musim semi dengan mahkota sakura menutupi tanah. Kisah serupa juga banyak ditulis oleh penulis dengan latar negara berbeda-beda. Tidak termasuk penulis dari negara asalnya sendiri, Jepang. Sementara penulis Jepang tentu sekali memiliki bumbu rahasia dalam racikan sastranya.

Jika perkembangan sastra di Indonesia sempat dikejutkan dengan kisah sepuluh orang anak mengikuti pendidikan di Belitong. Maka sudah sepatutnya dunia pendidikan di Indonesia ‘dicolek’ oleh Andrwa Hirata soal mutu pendidikan. Bahkan novel Laskar Pelangi mendapatkan posisi gemilang sebagai novel best seller, diangkat ke layar lebar, memenangkan berbagai macam anugerah sastra, fan diterjemahkan pula ke dalam berbagai bahasa asing.

Di sudut lain benua Asia, Jepang memberikan kisah yang nyaris sama tentang pendidikan di kawasan tepencil dan terbelakang kualitas pendidikannya. Namun ending yang berbeda tentulah diangkat di atas sekedar bercerita, namun juga membuka wacana berpikir para pembacanya.

Hisako Oshi adalah seorang guru dari kota. Dia ditempatkan di desa nelayan miskin. Ia harus mengayuh sepeda ke sekolah bermurid 12 orang. Orang-orang menyebut tempat itu sekolah kentang. Dari sekolah inilah lahir berbagai macam karakter murid yang sulit dididik oleh guru manapun.

Orang-orang di desa nelayan dan sekolah kentang tidak bisa menerima perbedaan. Sama seperti halnya ketika Miss Oshi muncul dengan cara berpakaian barat yang rapi dan mengayuh sepeda. Cara berpakaian Miss Oshi sangat langka di desa nelayan. Penduduknya miskin, mempunyai sebuah sepeda adalah sesuatu yang mewah.

Metode mengajar miss Oshi menyenangkan. Berbeda dengan guru-guru lain. Cara miss Oshi justru mendekatkan selusin murid-murid di kelas kepadanya. Miss Oshi juga mempunyai kesempatan untuk mengajarkan banyak hal. Termasuk menolong sesama ketika musibah topan melanda.

Kebaikan dan keluwesan miss Oishi terhadap sesama tidak selamanya dianggap baik oleh orang-orang desa. Ada yang menganggapnya mengejek dan tertawa di atas penderitaan orang-orang desa. Hal lain yang lebih menyedihkan bagi miss Oishi adalah ketika ia mrndapatkan kabar akan dipindahkan ke sekolah induk. Dalam hati miss Oishi mengenang, jika ia dipindahkan beberapa bulan lalu, ia akan senang. Tapi tidak sekarang, setelah ia dekat dengan anak-anak dari desa nelayan.

Meletusnya perang di Jepang merenggut segalanya. Anak lelaki, suami, bahkan anak perempuan. Anak lelaki dan suami dibawa untuk ikut berperang. Anak perempuan mati karena penyakit. Termasuk pula merenggut suami dan anak perempuan miss Oishi. Di usia tuanya, miss Oishi kembali mengajar di sekolah desa Tanjung atas permintaan salah satu muridnya yang sudah menjadi guru juga. Ia dikenal dengan ibu guru cengeng, tapi dia masih dihargai sebagai guru SD.

Novel ini memberi makna bahwa kondisi guru di masa ini sangat dihormati. Seorang guru adalah penerang. Banyak hal positif tersebut kini sudah hilang. Dengan membaca novel ini, ada hal lain yang kita pertimbangkan dalam melihat posisi guru saat ini dan dulu.

Pada dasarnya, Dua Belas Pasang Mata merupakan novel epik yang bagus. Namun pengalihan bahasa membuat bacaan ini cukup berat untuk dipahami. Pemilihan kata dan keseimbangan kata tidak mengalir. Novel ini lebih berat dari novel klasik.

Ilustrasi sampul dan warna yang dipilih cukup menawan. Lembut dan sederhana. Ada yang menarik dari novel ino. Bagaimana orang-orang Jepang juga menderita pada masa perang, meskipun mereka juga melakukan ekspansi ke negara-negara lain. Pada tanggal 15 Agustus 1945, ketika Jepang mengumumkan kepada rakyatnya bahwa mereka kalah perang, saat itu pula rakyat Jepang mulai merasakan hidup tenang. Mereka kembali ke sekolah dan kembali berkumpup dengan orang-orang terdekat.

 

Data Buku

Judul Buku: Dua Belas Pasang Mata || Pengarang: Sakae Tsuboi || Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Jakarta, 2013) || Tebal Buku: 248 halaman || ISBN: 978-602-03-3281-9

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *