"You are Connecting To My Words"

Kunjungan Madeung Anti Mainstream

Kunjungan Madeung Anti Mainstream

Di Aceh, ureung madeung (orang yang baru melahirkan) akan dikunjungi oleh para tetangga dan sanak saudara. Jika mengikuti adat akan berbeda cara setiap wilayah. Saya melahirkan di Takengon, dan berdiam selama proses penyembuhan selama dua bulan setengah di kota dingin itu.

Beberapa pesan di WA saya kirimkan untuk teman-teman dekat. Mengabarkan kalau saya sudah lahiran. Tidak langsung di sosial media. Saya ingat, platform sosmed pertama yang saya unggah foto Alexa di WeChat, sosmed yang paling banyak digunakan di China selain QQ dan Weibo. Itu juga untuk mengabarkan teman-teman yang pernah mengenal saya di China. Terutama bagi yang masih memakai WeChat. Foto Alexa saya unggah bersama sebuah antologi kisah para guru terbitan Diva Press. Di dalam buku ini ada tulisan saya.

Tidak lama beberapa teman datang ke Takengon dengan kado untuk Alexa. Mereka membawa baju. Baik untuk dipakai sehari-hari ataupun dibawa jalan-jalan. Alexa tentu saja tidak paham apa arti semuanya. Dia hanya melemparkan senyum pada setiap tamu yang berkunjung dan lebih banyak diam menahan dingin. Waktu itu Alexa juga belum sampai dua bulan. Saya juga belum troek uroe (sampai hari). Belum 44 hari.

Sekitar beberapa hari sebelum saya berulang tahun, sebuah email mengejutkan masuk ke akun yahoo.ie. Dhesy Badrina mengabarkan akan berkunjung ke Takengon. Dia berhajat untuk mendaki Burni Telong, melaksanakan tugas pustaka ransel, jalan-jalan, jumpa kawan, dan mengunjungi saya dan adek bayi. Bagian terakhir ini membuat hati klepek-klepek. Saya tidak berharap banyak. Jarak Banda Aceh-Takengon itu ratusan kilometer dengan berbagai rintangan lalu lintas yang kerap meminta korban.

Kenyataan yang mengejutkan justru mereka datang dengan sepeda motor matic Beat. Berdua dengan Deasi Susilawati, pemilik Metuah Henna Banda Aceh. Saya sampai melongo mendapatkan mereka ada di depan rumah saya. Benar-benar mengejutkan saya dan mamak. Dan mereka mengatakan akan datang mengunjungi Alexa.

Di waktu yang sama ada tamu lain, dia juga ureung madeung. Sudah sampai hari. Dia berkunjung juga melihat Alexa.

Di Takengon, para tamu yang berkunjung tidak datang membawa amplop atau kado. Kecuali jika mereka tidak yakin akan bertemu lagi di acara selanjutnya. Mereka akan membawa amplop berisi uang atau kado ketika acara turun mandi. Hari ketujuh dari lahiran atau hari ke 40 atau 44 dari waktu kelahiran. Hari ketujuh lahiran saya baru bisa berjalan sedikit demi sedikit pasca caesar. Mamak juga sangat lelah mengurus Alexa dan menyiapkan menu yang lebih banyak pantangnya untuk saya. Kami masih berpikir apakah akan membuat turun mandi atau tidak. Meskipun tinggal di Takengon, kami perantau dari Pidie yang tidak trend dengan acara turun mandi pada hari-hari tersebut. Aqiqah bisa dilakukan kapan saja. Tidak harus pada hari turun mandi. Berbeda dengan di Takengon.

Ketika Dhesy dan Dea datang, kami sangat gembira. Mamak menyiapkan menu yang membuat iler saya tidak kompromi berada di dalam mulut. Pasalnya saya tidak bisa bebas memakan semua hidangan. Masih terlalu banyak pantang.

Dhesy dan Dea menginap semalam. Tapi kami tidak bisa banyak bercerita juga. Faktor kelelahan dan waktu yang singkat, kami berakhir dengan cara unik. Saya ‘memberi makan’ Alexa dan Dhesy di depan TV di ruang keluarga. Sementara Dea sudah tepar duluan.

Esok paginya saya bangun terlambat. Dhesy dan Dea sudah mandi ketika saya bangun. Mereka bersiap akan bergerak pada jam tujuh pagi. Kami menahannya untuk sarapan. Sampai mereka molor bergerak. Mamak juga dengan bahagianya memamerkan koleksi bunga-bunga di halaman. Dhesy dengan gaya super profesional sebagai wartawan jeprat jepret sana sini. Saya sebagai emak-emak beginner hanya duduk di teras menonton mereka.

Sebelum benar-benar pulang dengan salam Dhesy berkata, “Kami malu tidak membawa apa-apa untuk Alexa.”

“Kami dikunjungi oleh onty Dhesy dan Deasi saja sudah senang. Tidak perlu bawa apa-apa,” kata saya diplomatis. Bukan basa-basi. Ini jawaban ori dari lubuk hati.

Dhesy menambahkan, “Kami akan mengunjungi Alexa lagi ketika kalian sudah di Banda Aceh.”

Dan perpisahan untuk bertemu lagi terjadi.

Senin, 25 Juni 2018, Alexa hampir genap tiga bulan. Tamu-tamu di Indrapuri sudah berdatangan. Di Aceh Besar, ada ciri khas tersendiri untuk mengunjungi ureung madeung. Mereka membawa kue dan amplop. Isi amplop bervariasi. Sesuai dengan kemampuan ekonomi dan seberapa banyak tentengan lain. Tentengan lain berupa kue bolu khas Aceh yang disebut bhoi. Biasanya dipersiapkan sendiri. Dibuat di rumah masing-masing sebelum berkunjung. Ada pula yang membawa gula, biskuit, teh, atau membeli bolu di toko kue. Tentengan diberikan untuk orang rumah. Amplop diberikan kepada bayi.

Beberaa generasi modern tidak lagi membawa tentengan berupa kue atau amplop. Mereka membawa kado. Isinya pakaian bayi.

Sebelum berangkat ke Indrapuri saya berkata pada abi Alexa, “Kita perlu beli baju baru untuk Alexa. Baju yang sekarang sudah terlalu kecil.”

Ternyata kami tidak perlu membeli banyak pakaian baru untuk Alexa. Karena yang dibutuhkan oleh Alexa sudah cukup untuk daerah panas. Bagaimana pun sebagai ibu saya merasa pakaian Alexa masih kurang. Terutama yang berlengan dan celana pendek. Saya berusaha tidak membiasakan Alexa dengan singlet dan kolor. Akhirnya saya membeli juga sekitar setengah lusin.

Meskipun abi Alexa sempat bilang, “Bunda Alexa kemaruk. Nggak cukup-cukup baju untuk Alexa.”

Padahal jauh-jauh hari teman saya sudah mengingatkan. Tidak perlu membeli banyak. Bayi cuma pakai sebentar. Apalagi nanti akan banyak yang bawa juga untuk Alexa. Saya merasa malas berkunjung ke tempat orang, mana mungkin ada yang akan bawa.

Dua orang ini datang lagi di hari Senin dengan tampang seperti biasa. Menenteng sesuatu yang bisa ditebak kado. Dhesy memberikan pada saya dengan kalimat, “Ini buat kakak dari kami berdua.”

Berat.

“Makasih Onty Dhesy dan Dea,” kata saya mewakili Alexa.

“Itu buat kamu, kak. Kalau Alexa sudah pasti banyak yang bawakan.” Tambah Deasi.

Jleb!

Apaan ini?

“Kami mau kakak membuka di depan kami,” kata Dhesy lagi. Lebih antusias.

Dan saya semakin yakin isinya buku. Berat, persegi empat, dan… Ditenteng dengan plastik asoi putih Gramedia. Serius! Sejak Gramedia dibuka di Banda Aceh sekitar setengah tahun lalu, sekalipun saya belum sempat masuk ke sana. Hanya status di WA Story dan IG story yang menunjukkan pada saya betapa mewahnya toko buku terbesar dan termegah di Indonesia ini. Bahkan termegah di Banda Aceh juga. Setiap pulang melalui Pango ke Indrapuri, saya selalu melewati toko buku ini.

Buku.

Benar.

Buku.

Omg! Rasanya saya ingin sujud syukur saat melihat judulnya.

Mister Soliter, karangan Jostein Gaarder. Penulis buku Best Seller berjudul Dunia Sophie. Sudah lama saya berniat membeli buku ini. Mondar mandir mengecek toko buku online dan berharap ada diskon. Ketika kado Alexa berisi novel filsafat ini, saya yakin Alexa akan menjadi bookish juga ketika ia paham baca tulis.

Sebagian orang tertawa ketika saya mengunggah foto buku ini sosial media. Mereka bilang kado ini terlalu berat untuk bayi. Sudah jelas ini bukan untuk bayi, ini untuk emaknya bayi. Emaknya bayi juga butuh hiburan.

Selama ini kita berkunjung ke turun mandi atau teman lahiran memang kerap membawa sesuatu yang berguna untuk anak. Sesekali kita juga perlu berpikir bagaimana emaknya. Ketika dia sudah memiliki kesibukan dengan bayinya, seringkali ia terlupa dengan dirinya sendiri.

Sepanjang saya menerima kado, inilah kado berharga anti mainstream dari para sahabat. Bukan saja untuk anak, tapi buat ibunya. Karena hadiah terbaik buat anak sebelum enam bulan adalah ASI. Kelancaran ASI sangat ditentukan oleh kondisi psikis ibu sang anak.

 



4 thoughts on “Kunjungan Madeung Anti Mainstream”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *