Bibliolive

Peci Bukan Simbol Agama Islam

Rosid mempunyai masalah dengan rambut kribonya. Dia tidak ingin memotong rambut yang disebut abah sebagai sarang tawon. Dia juga tidak mau memakai peci putih. Menurutnya peci bukan kewajiban dalam agama Islam. Baginya peci hanya sebuah simbol yang bisa digunakan oleh siapa saja.

Permasalahannya tidak semua orang bisa menerima ide Rosid. Terutama babe Rosid yang memegang teguh keturunan Al-Gibran sebagai kebanggaan. Memakai peci putih ketika sholat dan pada pertemuan-pertemuan keluarga Al-Gibran adalah kewajiban. Budaya yang tidak bisa dikompromikan dengan apapun.

Rosid yang merasa tertekan dengan kondisi mencoba mencari pembenaran. Ia menghubungi dan berdiskusi dengan orang-orang yang dianggap mampu memberi pembenaran dan landasan bahwa peci putih adalah budaya. Bukan kewajiban.

Usaha Rosid juga dibarengi oleh usaha sang babe. Ayah Rosid juga tidak kehilangan akal. Ia juga mencari cara agar Rosid memotong rambutnya, kemudian memakai peci putih.

Babe Rosid gagal membuat anaknya potong rambut. Dia juga gagal memberikan pemahaman pada Rosid bahwa peci putih bukan saja sebagai budaya, tapi kewajiban untuk menandai identitas.

Kisah Rosid dan problematika peci putih sebenarnya dialog dan praktek budaya dan agama di salah satu sudut ibu kota. Dimana dinamika simbol masih ketat dianut oleh kelompok-kelompok tertentu.

Ya, Rosid adalah contoh yang mewakili keberagaman beragama di Indonesia. Sebenarnya, di Indonesia masih banyak Rosid-Rosid lain dengan berbagai kisah yang nyaris serupa. Masalah sederhana yang penyelesaiannya masih bisa ditempuh dengan jalur diskusi. Tapi masih saja dicoba selesaikan dengan cara yang mengarah pada bentrok-bentrok budaya lain yang berujung pada masalah agama.

Ben Sohib mencoba menguraikan persoalan ini dengan bahasa yang ringan. Memberi pemahaman dengan pendekatan agama dan budaya yang sederhana. Tapi kesimpulan mengena tetap mencapai pada pembaca.

Secara fisik, novel ini memiliki daya tarik sendiri dengan menggunakan plesetan novel fenomenal Dan Brown berjudul The Da Vinci Code . Ukurannya yang mungil pun mudah dibawa kemana-mana. Kertas HVS putih yang tidak mudah berjamur dan terbilang kokoh. Kelebihan lainnya, novel ini cocok untuk orang-orang yang kurang suka membaca atau baru memulai menjadi ‘pembaca’. Ukuran font besar dan tidak ada istilah detil seperti The Da Vinci Code.

Kekurangan dari novel ini terletak pada penilaian pribadi saya. Jenis kertas yang dipilih terlalu tebal dan agak berat. Kekurangan lainnya terletak pada distribusi. Meskipun tercantum ‘Mega Best Seller’, tidak mudah mendapatkan novel ini di toko buku lagi. Sehingga meragukan untuk disebut Mega Best Seller.

Data Buku

Judul Buku: The Da Peci Code | Penulis: Ben Sohib | Penerbit: Ufuk Press (Jakarta: Cet 1, 2006)

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *