Traveliner

Tempat Makan Hot Pot Enak di Beijing

Sayuran hijau, warna-warna cantik dari berbagai jenis umbi-umbian, daging iris, dan berbagai jenis jamur atau mie instan dicemplung dalam kuah mendidih dengan bumbu khusus. Hanya menunggu beberapa saat sambil mengobrol, berpasang-pasang sumpit seperti berlomba merangkap salah satu cemplungan tadi. Ketika isian berkurang, bahan-bahan mentah kembali dicemplungkan ke dalam kuah. Sambil tetap dimasak di atas kompor listrik.

Inilah yang dinamakan huo guo (hot pot).

Menikmati huo guo tidak seru bila sendirian. Setidaknya ada dua atau tiga orang yang bisa diajak untuk makan bersama. Sambil mengobrol. Itu mengapa huo guo menjadi andalan menu keluarga di daratan Tiongkok. Baii ketika ada festival tertentu atau di akhir pekan. Soal bahan bahan yang dipilih itu tergantung selera. Ada yang lebih suka banyak sayuran, ada pula yang lebih suka banyak daging.

Saya sendiri memilih lebih banyak sayur dan sedikit daging. Terutama daging kambing. Sedikit saja cukup. Tidak pakai ketela dan kentang. Cukup sayuran hijau, irisan daging ayam, daging sapi, tahu, roll crab, bakso, tahu, dan kuah yang pedas. Tidak pedas kebas karena mala (merica batak) yang ditambah dalam kuah. Tetapi sepedas-pedasnya makanan China memang masih tidak pedas buat saya.

Harga huo guo di restauran Beijing berbeda-beda. Tergantung dimana dinikmati. Ada yang mahal dan ada yang murah. Jika makan bersama-sama teman-teman kami menikmati makanan lumayan banyak. Hanya sekitar 20 RMB perorang. Sekitar Rp 40 ribuan.

Di Beijing hampir setiap restauran menyediakan menu huo guo. Lihat saja mejanya. Jika ada kompor listrik yang dibenamkan dalam meja, bisa dipastikan jika restauran ini menyediakan menu huo guo.

Ada beberapa restauran di Beijing yang menyediakan huo guo serta kebersihan dan kelezatannya terjamin. Ada yang sistem pembayarannya perjin (1 jin=500 gram) dan ada pula yang sistem buffet (prasmanan). Saya lebih suka yang buffet, selain bisa memilih menu sesuka saya juga tidak berbagi panci kuah.

Di Qingnianlu, berseberangan dengan Joy City menyediakan restauran khusus huo guo. Sistemnya buffet. Ada banyak pilihan menu di sini. Ada seafood, daging merah, sayuran, cemilan berupa kue-kue, es krim, sirup, bahkan minuman bersoda. Lengkap. Waktu saya datang kemari, ada tiga varian rasa kuah; la (pedas), ji (ayam), dan oriental. Saya memilih rasa ji (ayam).

Kuah diisi di dalam panci kecil dan kompor spiritus yang diletakkan di atas meja. Sesekali pelayan yang mondar mandir akan mengisi air ke dalam panci yang sudah menyusut karena panas. Tentu saja, kuah pertama itu paling enak. Rasanya masih kuat.

Pelanggan boleh makan apa saja di sini. Saya memilih seafood dan sayur karena tidak yakin dengan daging di sini. Ada banyak kue yang bisa dimakan sebagai selingan. Egg tart yang paling saya sukai. Es krimnya juga enak.

Untuk makan sebanyak ini kami hanya diberi makan selama dua jam setengah. Kami datang berenam. Jika waktu yang diberikan terlewat, kami harus membayar denda tambahan. Untuk dendanya sendiri harus membayar sebesar 50 RMB/orang.

Butuh kesabaran juga untuk masuk ke restauran hot pot ini. Antriannya panjang. Orang lokal juga tidak sabaran untuk masuk. Mereka tidak sabar untuk terus makan. Ketika masuk, pengunjung akan diberikan kartu akses. Perkelompok mendapatkan satu kartu akses. Kartu ini berfungsi sebagai kunci untuk membuka pintu otomatis masuk ke dalam restauran. Kartu ini juga sudah distel durasi pengunjung berdiam di dalam. Jika saat keluar akses tidak bisa membuka pintu, artinya pengunjung sudah lewat durasi yang ditetapkan. Pengunjung harus membayar ekstra.

Tempat lain yang enak untuk menikmati huo guo adalah di kawasan Niu Jie. Di kawasan dekat mesjid Niu Jie kebanyakan pengunjungnya multi bangsa. Mereka umumnya beragama Islam. Meskipun orang lokal yang non muslim juga ikut memgantri panjang di restauran ini.

Saya belum pernah makan di sini. Kami datang di waktu yang tidak tepat. Ba’da maghrib untuk makan malam. Sementara pada waktu-waktu itu restauran sedang penuh. Jarak antara domisili saya dan restauran membutuhkan waktu setidaknya dua jam. Termasuk berjalam kaki dari subway ke restauran dan perjalanan subway ke asrama. Berhubung sudah malam, kami memutuskan untuk pulang dan kembali di lain waktu.

Semoga saya mendapat kesempatan untuk kembali ke restauran huo guo di Niu Jie segera.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *