Traveliner

Beijing Kaoya Warisan Para Kaisar

Rasanya belum sah ke Beijing kalau belum melakukan tiga hal. Mengunjungi forbidden city (kota terlarang), mendaki ke tembok besar, dan makan bebek bakar Peking. Ketiga hal ini seperti ritual wajib jika sudah ke Beijing.

Kali ini soal makanan. Bebek bakar Peking yang populer disebut Beijing Kaoya. Peking adalah sebutan Beijing sebelumnya. Tidak heran, dalam bahasa Inggris nama ini kemudian populer dengan sebutan Peking Roast Duck.

Beijing Kaoya adalah makanan khas ibu kota negeri tirai bambu ini. Meskipun banyak yang menyatakan Beijing Kaoya di area selatan lebih lezat dari kota asalnya sendiri. Saya belum pernah mencicipi di area selatan. Beberapa kali menikmati kaoya (bebek panggang) selalu di Beijing. Beberapa restauran sudah saya masuki untuk menikmati kaoya. Harganya juga bervariasi antara satu restaurant dengan restaurant lainnya.

Hampir semua restauran di Beijing menyediakan kaoya. Ada pula yang dijual di pinggir jalan. Saya tidak tahu harga kaoya yang dijual di kaki lima. Saya tidak tertarik untuk menanyakan. Sama seperti halnya di Indonesia, harga bebek memang sedikit lebih mahal dari pada harga ayam.

Kaoya dimakan dengan cara khusus. Penyajiannya istimewa. Ada lembaran tepung seperti kulit pangsit yang dibuat berbentuk lembaran melingkar. Ada potongan timun yang memanjang, batang bawang, ada saus cuka berwarna hitam. Daging kaoya diiris tipis-tipis.

Cara memakannya pun cukup unik. Lembaran kulit lebar diletakkan di atas piring atau permukaan telapak tangan. Ambil timun, batang bawang, dan irisan bebek. Lalu gulung kulit pangsit seperti risol. Celupkan ke dalam saus hitam. Makan.

Renyah.

Bagian tulang belulang bebek yang masih bersisa daging juga bisa dimakan, lho. Tinggal katakan saja pada pramusajinya akan diolah dalam menu apa. Sup atau digoreng. Saya lebih sering minta digoreng kriuk kriuk. Digoreng lebih bisa diterima oleh lidah dibandingkan sup. Apalagi bebek memiliki aroma khas, sedikit anyir.

Di Beijing, harga satu porsi (separuh bebek) tidak kurang dari 100 RMB. Sekitar Rp 200 ribu untuk kurs saat ini (Juni 2018). Tapi umumnya di atas 100 RMB. Sekitar 150 RMB ke atas. Tergantung ukuran dan makan dimana.

Tidak semua kaoya di Beijing enak. Kata teman saya, malah sebagian kaoya sangat amis. Bebeknya masih basah. Lembaran berasnya juga terlalu tebal. Untungnya saya tidak mengalami pengalaman mengerikan itu.

Tempat paling enak untuk makan kaoya terletak di Qianmen. Ada sebuah restauran yang selalu penuh dan antriannya panjang di sana. Untuk makan di situ, kabarnya harus datang pagi-pagi sekali. Ikut mengantri dan mengambil nomor meja.

Resep kaoya di restauran ini sangat khusus. Resepnya adalah warisan dari masa kekaisaran China zaman dulu. Sudah sekitar 150 tahun lebih usianya. Turun temurun ke setiap generasi sampai ke generasi sekarang. Jangan tanya siapa yang makan di sana. Orang-orang penting. Jika zaman dulu saja kaisar yang makan di sana, bisa dibayangkan ketika sistem kekaisaran di China sudah dihapuskan.

Tentu saja untuk makan di sini tidak cukup hanya membawa jang berwarna merah tiga digit bergambar Mao Ze Dong. Setidaknya harus menyelipkan debit card dengan saldo yang lumayan untuk jaga-jaga.

Saya sendiri tidak pernah makan di sini. Hanya sekali saja setiap kali ke Qianmen. Memang benar, antriannya panjang sekali. Saya tidak mengerti bagaimana orang-orang lokal rela antri dan mengeluarkan duit sebanyak tak terkira untuk makan bebek.

Menurut teman saya yang pernah mendapat kehormatan makan di sini, rasanya memang enak. Tidak jauh beda dengan kaoya yang dijual di sekolah kami. Mungkin karena kami berdua bukan penggemar bebek. Jadi sama sekali tidak tahu bedanya.

Lokasi restauran ini cukup mudah dicari. Masuk dari gapura utama Qianmen Street. Lihat ke sebelah kiri. Sebelum Madam Tassaud. Lihat saja dimana ada antrian panjang, di situlah tempat kaoya  para kaisar berlokasi.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *