Bibliolive

Takdir Bulan dan Matahari Dalam “The Moon that Embraces the Sun”

Putra mahkota Lee Hwon mendapat guru baru. Masih muda. Hanya dua tahun lebih tua dari dirinya. Sebelumnya, dia selalu membuat para guru diberhentikan. Begitu pun dengan guru baru ini, dia sudah berniat untuk membuatnya diberhentikan. Dia ingin berbuat hal yang sama melalui kenakalannya. Apalagi jika sang guru hanya lebih tua dua tahun dari putra mahkota. Dia akan mendepaknya segera.

Ternyata Heo Yeom memiliki teknik yang berbeda untuk menaklukkan putra mahkota. Lee Hwon akhirnya tidak hanya terpikat pada cara mengajar Heo Yeom. Dia juga terpikat pada ketampanan guru mudanya ini. Lambat laun niat mengusir berubah menjadi terpikat. Keduanya malah menjadi sahabat. Terutama ketika Hwon mengetahui Yeom mempunyai adik perempuan.

Hubungan Hwon dan Heo Yeon Woo perlahan semakin dekat melalui surat menyurat. Keduanya saling merindu yang membuat Heo Yeom khawatir. Apalagi ketika pencarian permaisuri dimulai. Kekhawatiran Heo Yeom bertambah karena setiap keluarga yang mempunyai anak gadis wajib mendaftarkan putri mereka kepada pihak kerajaan. Mereka juga dilarang menikah sampai proses pemilihan permaisuri selesai.

Sebagaimana diketahui oleh pegawai kerajaan, dalam pemilihan permaisuri pun terjadi politik yang sangat licik. Permaisuri sudah disiapkan dari klan Yoon. Pemilihan yang dilakukan hanya bersifat formalitas. Perempuan yang masuk ke dalam lima besar dan tidak terpilih juga tidak boleh menikah. Mereka akan tinggal kesepian melajang seumur hidup mereka. Kecuali jika raja menjadikan mereka sebagai selir. Itu pun mereka harua tinggal menyendiri di belakang istana. Inilah yang ditakutkan oleh Heo Yeom akan terjadi pada adiknya. Dia memohon agar adiknya tidak mendaftar pada pemilihan. Sehingga dia bisa melihat adiknya berbahagia dengan hidup bersama lelaki lain.

Putra mahkota menyusun rencana agar Heo Yeon Woo terpilih menjadi permaisuri. Dia yakin gadis dari keluarga bangsawan ini akan menang jika dilakakukan pemilihan yang adil. Tidak dengan sistem pemilihan biasa.

Yeon Woo memang menang dalam pemilihan tersebut. Sebelum Hwon bertemu dengan permaisurinya, sebuah kabar beredar. Dikabarkan Yeon Woo sakit dan meninggal dunia. Putra mahkota tidak bisa menerima kabar ini. Meskipun dia dilarang meninggalkan istana, hari itu Hwon nekat meninggalkan istana ke rumah Yeon Woo. Dia tidak bisa melihat jenazah Yeon Woo yang dipaku dalam peti kecil. Yeon Woo harus segera dikuburkan. Di depan Hwon, ayah Yeon Woo terus menyalahkan diri sendiri sebagai pembunuh anaknya sendiri.

Hwon sangat terguncang. Dia harus menikah dengan Bo Kyung, pemenang kedua dari klan Yoon. Sementara Yeon Woo dikuburkan di tempat yang jauh.

Delapan tahun kemudian Hwon sudah menjadi raja. Dia bertemu seorang perempuan cenayang tanpa nama beraroma bunga anggrek di saat gerimis. Bersama Kim Jae Woon, ungeom raja, keduanya terpesona dengan cenayang ini. Hwon menamainya Wool (bulan) dan dia percaya jika sudah jatuh cinta pada cenayang ini.

Wool menghilang sementara rindu Hwon menggelegak. Dia kembali ke iatana sebagai cenayang penyerap bencana. Dia menghabiskan waktu sepanjang malam duduk di samping raja. Woon yang mengenali Wool sangat bahagia. Meskipun dia tahu bahwa raja juga menginginkan Wool. Sebagai anak haram dia pantas bersanding dengan Wool. Cenayang memiliki kasta paling rendah di dalam lapisan masyarakat. Sama dengan anak haram. Tentu saja raja tidak pantas memperistri cenayang.

Kecurigaan Hwon terhadap kejadian delapan tahun silam muncul ketika dia menemukan kesamaan antara Wool dan Yeon Woo. Dia mengutus cukup banyak orang untuk menyelidiki. Mereka semua mati dengan jejak bunuh diri. Semakin lama semakin kuay kecurigaan Hwon pada peristiwa delapan tahun lalu melibatkan pihak ibu suri Yoon.

Orang pertama yang mengungkapkan Wool dan Yeon Woo orang yang sama adalah Kim Jae Woon. Dia mengutarakan kepada raja dan mencoba membangun kembali cinta mereka. Meskipun hatinya terluka harua kehilangan cintanya sendiri. Kesetiaan pada raja adalah utama.

Ketika semuanya mulai terungkap, kelompok pemberontak yang direncanakan oleh ayah mertuanya berencana akan menyerang dan membunuh raja pada perayaan gut. Di hari yang sama pula sekelompok pembunuh bayaran dikirim ke rumah Heo Yeom dan putri Min Hwa, adik kandung Hwon yang terlibat dalam pembunuhan permaisuri delapan tahun lalu. Pada peristiwa itu, Seol yang menjadi pengawal pribadi Yeon Woo melindungi keluarga Heo Yeom. Dia mati terbunuh.

Hwon dan Yeon Woo akhirnya bersama. Mereka memiliki seorang putra mahkota dan mendidik anak dari putri Min Hwa. Putri Min Hwa yang dihukum menjadi budak dibebaskan dari hukuman dan kembali hidup bersama Heo Yeom.

Ending yang sudah bisa ditebak dari novel The Moon that Embraces the Sun adalah happy ending. Novel karangan Jung En Gwol ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama dan bagian kedua. Kedua bagian sudah diangkat dalam drama berjudul sama pada tahun 2012. Sebanyak 21 episode ini sukses besar. Drama yang diperankan oleh Kim So Hyun (Lee Hwon) dan Han Ga In (Heo Yeon Woo/Wool) mendulang sukses dengan berbagai penghargaan.

Jung En Gwol memainkan semua tokoh dengan apik. Setiap tokoh memiliki karakter yang kuat. Tokoh Lee Hwon digambarkan bandel ketika muda sangat bertolak belakang dengan tokoh Yeon Woo yang lembut dan berkarakter. Tokoh-tokoh lain yang dimunculkan secara bergantian juga memiliki karakteristik yang kuat.

Tokoh-tokoh rendahan seperti Seol, Janshil, dan lain-lain mendukung cerita ini lebih kuat.

Alur yang dibangun dalam novel ini adalah alur campuran (maju mundur). Kisah ini dimulai ketika Lee Hwon dan Kim Jae Woon singgah di gubuk cenayang Wool. Baru pengenalam tokoh dan intrik cerita dimulai perlahan. Terurai kisah masa kecil sang raja dan asal mula cintanya dengan Heo Yeon Woo.

Meskipun menggunakan alur campuran, Jung En Gwol tidak mwmbuat bingung para pembacanya.

Pada dasarnya, kisah ini berpusat pada Lee Hwon dan Heo Yeon Woo. Kemunculan tokoh-tokoh pendamping lainnya mengambil tempat dengan rapi. Saling terkait dan mempunyai karakteristik kuat. Terutama kemunculan pangeran Yang Myung yang mendukung penokohan Lee Hwon lebih besar. Meskipun di versi novel kemunculan pangeran Yang Myung porsinya lebih sedikit. Tapi peran Yang Myung sangat kuay untuk memperjelas cinta bercabang antara Lee Hwon, Heo Geon Woo, Kim Jae Woon, dan Pangeran Yang Myung.

Banyak istilah sejarah zaman Joseon muncul dalam novel. Pembaca tidak akan bingung dengan istilah-istilah asing ini, justru menjadi pengetahuan baru. Penulis memberi penjelasan berupa footnote pada tiap istilah. Bahkan berulang kali memberi penjelasan.

Bahasa yang digunakan dalam dialog juga tidak sulit dipahami. Terlihat jelas perbedaan antara bahasa yang digunakan oleh bangsawan dan budak. Di sinilah letak transfer bahasa antara penulis dan pembaca. Penerjemah berhasil memindahkan versi Korea ke dalam versi Indonesia.

Banyak pengetahuan baru terkait budaya dan sejarah Korea dalam novel ini. Pengetahuan mendasar untuk memancing pembaca untuk mempelajari lebih jauh tentang sastra dan budaya Korea.

Secara umum, kelebihan novel ini terletak pada terjemahannya. Gaya bahasa dan terjemahannya luwes. Mudah dipahami.

Jika dilihat dari unsur eksentrik, novel yang jika digabungkan mencapai seribu halaman ini menggunakan book paper yang cenderung ringan. Jadi, meskipun perbagian bukunya mencapai 500 halaman masih mudah dibawa-bawa. Ukuran bukunya standar, 20 cm, masih indah dipajang di rak buku.

Ilustrasi sampul buku ini masih menggunakan versi asli dari negara asalnya. Gambar yang digunakan di meja kerja Lee Hwon sebagai raja. Buku pertama bergambar matahari jingga. Buku kedua bergambar bulan putih. Jika kedua buku digabung akan berbentuk gambar utuh yang membentuk keutuhan Joseon pada masa lampau. Matahari dilangit melambangkan raja yang menerangi rakyatnya. Sementara bulan di langit menunjukkan permaisuri yang melambangkan ratu pendamping raja. Meskipun berada di langit yang sama, Bulan dan matahari tidak bisa bertemu setiap waktu. Begitu penggaram kehidupan di masa lalu.

Novel ino cenderung sempurna. Tentunya ada kekurangan sedikit. Secara teknik terletak pada ukuran buku yang tidak sama tinggi. Hanya selisih 0,5 sampai 1 cm. Dari sisi cerita, Jung En Gwol terlalu memaksa akhir cerita sekaligus.

Pada akhir cerita, semua tokoh pendamoing seperti dipaksa mati oleh penulis untuk menguatkan tokoh Hwon dan Yeon Woo. Pangeran Yang Myung mati saat terjadi pemberontakan. Permaisuri Bo Kyung mati gantung diri. Seol mati saat menyelamatkan tuannya. Tokoh yang berakhir bahagia juga dibuat secara instan berbahagia.

Peperangan yang terjadi saat pemberontakan dilakukan harusnya dinikmati oleh pembaca seperti menonton dramanya juga terlalu hambar. Mungkin juga jenis kelamin penulis sangat mempengaruhi deskripsi cerita. Jung En Gwol seorang perempuan. Umumnya perempuan tidak apik dalam mendeskripsikan peperangan atau action.

Bagi fans berat Korea dan segala hal berkaitan. Novel ini sangat direkomendasikan. Termasuk untuk para mahasiswa Sastra Korea. Full recomended!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *