Bibliolive

Kepingan Salju di Swiss; Ketika Cinta Harus Transit

Judul : Swiss | Penulis : Alvi Syahrin | Penerbit : Bukune | Terbit: Juni 2013 (Cetakan Pertama) | Tebal : 297 halaman | ISBN : 602-220-105-5 Cinta menjadi alur sejuta kisah di kisah apapun yang kita simak. Cinta kepada pasangan di masa muda merupakan kisah cinta yang tak pernah mati. Apalagi jika ditulis dengan latar belakang luar negeri yang menarik. Swiss, sebuah negara di Eropa yang terkenal dengan berbagai keindahan musim dinginnya. Inilah yang dicoba ungkapkan oleh Alvi Syahrin melalui novel keduanya. Alvi Syahrin memaparkan dengan jelas bagaimana perasaan seseorang yang harus transit kepada orang lain sebelum mendapatkan seseorang yang tepat. Ia tahu hatinya akan terbang kemana, tapi harus menunggu waktu untuk mengobati luka yang terlanjur terbentuk. Inilah inti dari novel berjudul Swiss. Swiss bercerita tentang kisah cinta Rakel dan Yasmin, seorang gadis Indonesia yang baru tiba di Zurich. Gadis ini hobi memotret dan menyukai sebuah lengkung senyum seorang lelaki Swiss bernama Rakel. Ia sudah menjadi inspirasi Yasmin jauh sebelum lelaki ini menyapanya untuk mengobrol dan mencari inspirasi bersama. Namun masa lalu Rakel tidaklah membuat Yasmin bahagia untuk waktu yang lama. Sebuah kenyataan pahit tentang masa lalu Rakel merusak segala harapan indah Yasmin. Sayangnya, Yasmin sudah terlanjur jatuh cinta pada lelaki ini. Di balik semua perasaan Yasmin, ada orang lain yang menyukainya dengan tulus. Dia pernah menjadi sahabat Rakel dan orang yang paling dibenci oleh Rakel. Rakel membencinya karena dianggap penyebab utama kematian adik perempuannya. Kelly terlalu mencintainya, bahkan ia tidak pernah membalas satu pesanpun yang dikirimkan oleh Kelly untuknya. Kalau saja ia membalas pesan Kelly, ia yakin sekali hidup Yasmin akan lebih panjang, bukan semakin singkat. Sejak itu persahabatan mereka berantakan. Elena dan dia menerima kehadiran Yasmin dengan bahagia. Ketika RAkel hadir dalam kehidupan Yasmin, mereka tahu kejadian beberapa tahun lalu akan terulang lagi. Dia pun hadir untuk menjadi sandaran ketika Yasmin menangis. Dia terlalu baik, tapi Yasmin tidak bahagia bersamanya. Ia hanyamengingnkan Rakel bersamanya. Itu saja. Tujuh bulan bersama dia, Yasmin memutuskan untuk mengakhiri perasaan palsunya kepada dia. Dia mengantarnya kepada Rakel. Tepat saat itu dia akan ke Amerika. Yasmin harus menunggu sampai cintanya yang sempat transit akan mendarat di tempat yang tepat di hati RAkel. Karena keduanya tahu mereka saling mencintai, menyimpan kerinduan, mereka bahagia ketika bersama. Sesuai dengan judul novelnya, novel ini berlatar belakang dikota Zurich, ibukota Swiss. Lokasi tempat lebih memfokuskan di danau yang menjadi pusat destinasi kota Zurich. Penulis sangat fokuspada tempat ini. Ia menggambarkan dengan detil suasana musim dingin yang beku di kota Zurich. Melalui novel ini, pembaca akan mengetahui seluk beluk kota Zurich dengan detil di musim dingin. Kisah persahabatan tiga sahabat yang tidak melibatkan cinta segitiga sahabat perempuan lain. Begitu asyik untuk dibaca. Membaca novel ini, pembaca akan memahami sisi lelaki lebih dalam. Sebagai penulis, Alvi Syahrin mendominasi perasaan Rakel begitu dalam di tiap paragraf. Ada ungkapan-ungkapan dalam Bahasa Jerman yang muncul di tiap paragraf menambah wawasan pembaca. Judul-judul tiap bab yang ditulis dengan Bahasa Jerman cukup menjadi referensi untuk status-status di sosial media. Penerbit Bukene pun memberi kenyamanan membacca dengan piihan kertas yang ringan, layout yang menarik, ditambah dengan sketsa-sketsa dan kutipan kisah cinta yang manis pada tiap bab. Kisah cinta tak sampai dengan ending yang manis memang umum sekali ditulis. Hal yang berbeda dari Alvin, ia mencoba menyampaikan ‘jangan kegeeran ketika seseorang berbuat baik dan manis kepadamu’. Ia juga mengangkat bahwa dendam dari masa lalu bukan hanya merusak persahatan, tapi juga cinta baru yang siap bersemi. Bagi pembaca yang suka membaca kisah cinta berlatar belakang luar negeri, Swiss boleh masuk daftar bacaan yang layak dipertimbangkan. Ada sebuah kartu pos yang dilipat seperti surat cinta terselip di dalamnya. Ada kutipan yang manis pula yang berbunyi, “Di antara musim-musim yang berganti, aku menemukan satu waktu untuk merenung, bahwa kita tidak pernah saling membenci, hanya saling merindu.”

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *