Bookish

Avril’s Books

Rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca buku banyak dalam sebulan. Apalagi bisa menamatkan satu hari satu judul. Di masa muda dan produktif saya bisa menghabiskan buku setebal 150 halaman dalam waktu hitungan jam. Biasanya itu novel Indonesia yang ringan-ringan seperti teenlit. Rekor ini tidak bisa saya pecahkan lagi sejak sepuluh tahun terakhir.

Bulan April, saya memulai membaca lagi untuk mengisi waktu selama menjaga bayi. Apalagi saya tidak bisa berbuat apa-apa pasca caesar. Ke kamar mandi saja butuh pertolongan semua pihak. Maka jadilah saya seperti kutu buku. Walaupun aktivitas ini sangat dilarang oleh Mamak.

Mamak percaya bahwa orang bersalin memiliki pantangan cukup banyak. Selain makanan, melakukan aktivitas berat, aktivitas membaca buku sangat dilarang. Katanya akan merusak mata dan mempercepat proses kerapuhan. Semua darah putih akan berkumpul di mata. Begitu kata Mamak tanpa menggunakan referensi kesehatan dalam berbicara. People zaman old memang banyak pantangannya. Padahal saya sudah pede saja alasan Mamak mengatakan ini karena beliau bukan orang yang suka membaca.

Diam-diam saya membaca juga. Dimarahi, diceramahi, diulang-ulang ancamannya. Saya diamkan saja. Tidak peduli apapun. Cuek.

“Apa bedanya dengan main hape, Mak. Makah hape lebih parah lagi,” kalimat itulah yang akhirnya memuluskan jalan saya membaca buku. Eum, tepatnya membaca novel.

Buku yang saya baca di bulan April berjudul Me and My Students. Buku antologi terbitan Diva Press. Di buku ini salah satu tulisan saya ikut nangkring dengan cantik. Judulnya Unit Satu. Bercerita tentang pengalaman mengajar saya di kelas Komunikasi Penyiaran Islam. Mereka yang masih muda-muda sempat membuat saya stress sampai terbawa-bawa ketika sedang berada di meja bedah. Para kontributor lain juga menuliskan pengalaman serupa. Kisah-kisah mereka berada di kelas. Saya tidak membaca habia buku ini. Beberapa bab terlewati begitu saja. Khususnya pengalaman mengajar anak berkebutuhan khusus. Entahlah, saya merasa baper dan takut tersugesti saja. Tidak untuk saat ini.

Buku kedua berjudul The Moon That Embraces the Sun. Novel karya Jung Eun Gwol, penulis dua buku best seller, The Moon That Embraces the Sun dan Sung Kyun Kwan Scandal. Keduanya sudah diadaptasi ke drama. Dua-duanya mendulang sukses. Itu pula alasan saya membeli novel ini pada tahun 2013. Sudah lama sekali, bukan? Tapi saya belum sempat membacanya.

Dulu saya terjebak dalam rutinitas membeli buku tanpa berpikir kapan membaca buku-buku tersebut. Terutama buku referensi. Ah, jangan tanya sudah berapa yang saya tamatkan. Novel ini dua di antaranya.

Kenapa dua?

The Moon that Embraces the Sun terdiri dari dua bagian. Bagian matahari dan bagian bulan. Tidak ada pembagian khusus cerita. Tapi hanya gambar sampulnya saja yang begitu. Jadi ketika disatukan, kedua buku ini akan membentuk satu lukisan utuh. Lima puncak gunung yang puncaknya ditutupi salju, di langitnya ada matahari kuning dan bulan putih. Cahayanya memantul ke danau di musim semi. Jika ditotalkan, jumlah halaman kedua novel ini bisa mencapai 1000 halaman. Butuh waktu untuk membaca novel ini. Terutama bahasanya juga tidak seringan teenlit.

Usai menamatkan novel ini, tidak sabar rasanya melahap semua novel Penerbit Laksana. Sepertinya imprint dari Penerbit Diva Press. Empat novel lainnya dikirim dalam paket bukti cetak dan terbit Me and My Student. Saya memulai dengan Halfway Home. Kisah yang ditulis secara apik olwh Priscila Stevanni tentang LDR.

Berikutnya novel berjudul Rumah Sakit karya Ari Keling. Sedikit lebih lama menamatkan novel horor misteri ini. Harusnya novel setipis ini bisa saya selesaikan dalam satu hari. Kali ini tidak. Saya sengaja tidak membaca di malam hari. Takut terbayang-bayang. Pasalnya sejak memiliki seorang bayi, saya akan terus terbangun di malam hari. Terkadang saya juga harus ke kamar mandi atau ke dapur untuk minum dan menghangatkan air. Novel genre ini tidak bisa masuk area bacaan malam.

Meskipun horor, Rumah Sakit sudah selesai pula menuliskan resensinya. Bahkan saya berencana untuk mempublikasikan di platform Kompasiana atau IDN Times. Mungkin juga di halaman bookish platform ini.

Buku terakhir yang saya tamatkan di bulan April berjudul Departeman Hati. Novel yang membuat saya penasaran setengah mati. Bagaimana tidak? Sepanjang awal tahun 2018, sejak novel karangan Jaka Perdana ini terbit, begitu banyak give away, blog tour, serta ulasan di berbagai blog. Bahkan Penerbit Diva Press juga berulang kali meretweet novel ini. Foto-fotonya juga bagus. Warnanya hitam. Apa nggak tambah bikin baper?

Begitu novel ini masuk sebagai salah satu bagian dari paket buku kiriman, saya senang setengah mampus. Harganya juga lumayan untuk makan bakso seminggu. Beruntunglah tidak jadi beli dan dapat secara gratis.

Tepat ketika bulan April berakhir pada tanggal 30, novel ini selesai pula saya baca dengan akhir yang manis. Dek Rini, anak magang di PT Jaya jadian dengan Dede, si kaku yang terus bergelut dengan angka-angka. Ending yang sudah bisa ditebak sebenarnya.

Bulan Mei, tidak ada target yang terlalu muluk-muluk untuk menamatkan novel. Masih banyak stok novel yang belum terbaca. Jika bisa menyelesaikan empat saja sudah sangat apresiasi untuk diri sendiri.

Bagaimana denganmu, guys?! Berapa buku yang kalian targetkan selesai bulan ini?

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *