Bookish

Menulis di Buku Tulis

“Masih tradisional begitu?” Tanya teman saya saat melihat buku tulis 30 halaman terbuka di depan saya. Untaian kalimat yang mengalir di kepala saya tidak terangkai di halaman microsoft word, tetapi malah di buku tulis.

Saya tidak mengerti ada apa dengan kepala saya. erkadang begitu tidak menyukai laptop, terkadang sangat mencintainya. Tidur pun harus bersama laptop. Begitulah… sekarang semuanya ada di buku tulis.

Menulis dengan menggunakan buku tulis terkadang memang lebih produktif dibandingkan dengan menulis dengan menggunakan laptop. Ide mengalir dengan lancar dan halamannya bisa diprediksikan 95% dengan tingkat akurasi benar. Saya sudah pernah menghitung berapa jumlah kata perhalaman buku tulis 30 halaman ketika mengetik ulang dengan komputer. Satu halaman buku bergaris 25 lines akan menghasilkan sejumlah 100 kata lebih. Biasanya saya menulis antara tiga sampai enam halaman untuk blog. Jika saya menulis tiga halaman, saya sudah mendapatkan sekitar 400-an kata untuk tiap tulisan.

Hal yang sama sebenarnya bisa dilakukan ketika menulis esai sebagai tugas kuliah, tetapi terkendala dengan tidak memiliki laptop. Dosen juga terkadang tidak mempersulit mahasiswa dengan mewajibkan mengetik, sebagian malah membiarkan mahasiswa menulis tangan. Ketika menulis tangan inilah terkdang mahasiswa mencoba bermain trik dengan dosen. Dua halaman kertas double folia bergaris dikatakan sudah 1500 kata. Padahal tidak demikian adanya.

Anda masuk golongangan mana? Menulis di buku tulis atau lebih menyukai di laptop?

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *