Bookish

Jauh Dari Pintar, Dekat Dengan Si Pintar

SUATU MALAM di awal Nopember tahun ini, satu perkampungan berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Banda Aceh terlihat tengah disibukkan oleh gaduhnya sebuah perhelatan besar. rupanya, ada keluarga yang sedang mempersiapkan hajatan pernikahan putrinya. Tak pelak, orang-orang tumpah ruah dan berduyun-duyun menuju rumah acara. Semua berkumpul di “divisi” yang masing-masing orang mampu kerjaan, membantu apa saja yang bisa dilakukan.

Kampung ini, gampong yang cukup luas. Posisinya persis berdekatan dengan Seulawah, dikelilingi oleh hamparan hijau persawahan, di beberapa tempat bahkan dibelah pula oleh sejumlah sungai dan irigasi alam. Tampaknya, budaya kebersaman dan semangat gotong royong masih dipegang teguh oleh para penghuni gampong.

Beberapa belas tahun silam, kegiatan serupa merupakan ajang paing dirasakan oleh anak-anak. Mereka akan berkumpul, menjalin pertemanan, dan bermain hingga larut malam. Seperti biasa, terjadi pada kebiasaan lokal, hajatan akan dilakukan di akhir pekan. Tidak ada sekolah. Tidak ada gangguan untuk anak keesokan harinya. Jadi, anak bebas berteman dan menjalin pertemanan baru sepuas hatinya.

Tahun-tahun belakangan, anak-anak tidak lagi berkumpul dengan sejawat mereka. Kini, anak-anak cenderung mengikuti orang tuanya ke dalam rumah acara selama beberapa menit. Sementara Ibunya bekerja di bagian dapur dan mengerjakan banyak hal, sang anak akan bermain dengan gadget sang ibu. Tidak ada lagi saling menyapa dengan teman baru. Mereka lebih khusyuk bermain game, menonton video yang disimpan di ponsel, tidak berbaur dengan anak-anak sebaya. Kalaupun ada beberapa di antara mereka yang berbaur, itu pun dilakukan dengan saling memamerkan game baru yang dipasang pada ponsel orang tua mereka. Anak yang memiliki ponsel sendiri dengan bangga bercerita bahwa ia sudah dibelikan ponsel sendiri dengan aplikasi game dan video yang lebih menarik.

Lebih Canggih?

Di BAWAH teratak yang sudah dipasangi terpal sebagai atap, sekelompok anak yang sudah saling kenal karena status bertetangga, berkumpul. Usia mereka antara empat hingga delapan. Mereka tidak bermain petak umpet yang membuat repot para orang tua mewanti-wanti agar tidak terjatuh atau tertimpa barang-barang yang sedang dibereskan. Tidak ada pula tawa ceria dan nyanyian permainan kelompok.

Para pekerja yang sedang memasang ini dan itu di hajatan pun lebih mudah memerintah anak-anak untuk berada di suatu tempat. maka, di bagian yang mereka anggap aman dari pekerjaan orang tua, beberapa anak berkumpul, duduk berdempetan.

Malam itu, seorang anak perempuan berambut pendek menunduk serius. Cahaya dari suatu benda memantul ke wajahnya dan wajah beberapa anak lain. Semua menatap dan fokus pada titik yang sama: sebuah tablet.

Ukuran tablet itu tidak begitu besar, tidak pula kecil untuk tangan para anak. Namun, jemari mungil yang menyentuh laar LCD, terlihat seperti jemari para ahli dalam mengoperasikan teknologi. Mereka bukan jenius cilik, mereka sedang bermain game entah di tablet yang entah milik siapa. Si pemegang tablet berusia balita, belum mencicipi bangku sekolah dan tampaknya menjadi “bos” di antara anak-anak lain. Gayanya terkesan professional disbanding anak seusianya.

“Jangan tekan itu! Nanti dia mati!” Bentaknya sesekali ketika ada jemari usil yang penasaran dengan fungsi tombol virtual di layar.

“Kucingnya dikasih makan dulu, ditidurin juga, batrenya sudah merah. Dia capek. Terus main game lain dulu. nanti dapat poin, bisa beli-beli. Beli makan, jalan-jalan, beli baju baru,” dia menambahkan, memberi penjelaskan kepada anak lain tentang peraturan game yang sedang dimainkan.

Tidak ada berbagi dalam permainan ini. Hanya ada satu penguasa yang mengontrol jalannya permainan. Anak-anak lain yang merasa asing dengan game itu pun hanya menonton, tidak bertanya. Ketika bertemu dengan ibu mereka, barulah ia merengek meminta benda yang sama.

Di sisi lain, para ibu bersyukur ketika anaknya tidak keluyuran di tengah malam. Mereka juga bersyukur sang anak lalai di sudut ruangan, tak mengganggu orang lain, hanya sibuk dengan game di ponsel. Ia bisa bekerja dan mengobrol tanpa rengekan anak minta pulang atau jajan ini itu. Sebuah gadget cukup menyook anak tidak berkutik.

Haliza, ibu yang membawa serta anaknya di persiapan hajatan malam itu, merasa teknologi sangat membantu. Baginya, teknologi memberi pilihan agar bersikap cerdas dalam menyiasati waktu. Tasya, “penguasa” tablet yang memainkan game kucing itu, adalah anak Haliza. Usianya baru 4 tahun, tapi sudah paham semua fitur ponsel melebihi ibunya.

“Jameun tanyoe (masa kita-red) tidak ada seperti itu. Jadi tidak heran jika kita sedikit gaptek,” Haliza mengomentari perbedaan kecanggihan teknologi masa sekarang dan masa kanak-kanaknya. Gagap teknologi, bagi sebagian orang diidentikkan dengan tidak mengenal perlengkapan elektronik yang muncul. “Anak-anak sekarang sudah lebih canggih daripada kita. Anak-anak pun semakin pintar.kita tidak perlu mengajari lagi bagaimana menggunakan ponsel. Dia sudah paham dengan sendirinya.”

Dampak

BAGI HALIZA, dan sebagian ibu lain yang sependapat dengannya, gadget sudah dianggap sebagai bagian dari “jati diri” anak. Masalah anak susah bangun pagi untuk shalat dan sekolah, dirasa lumrah dan tak dikritisi sebagai akibat penggunaan gadget. Padahal, acap kali anak bermain game hingga larut malam dan tidak akan tidur bila permainan belum game over.

Begitu pula ketika siang. “Pulang sekolah, yang dicari ponsel terus. Susah disuruh mengaji dan sekolah. jika diajarin  di rumah, harus disogok dengan jatah bermain ponsel lebih lama dari biasanya,” ungkap Riska, ibu lain yang mempunyai anak lelaki berusia 5 tahun bernama Raihan. Raihan kerap bermain game balap dan perang di ponsel ibunya.

Meski sudah duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, Raihan tidak bisa membedakan huruf b dan p, m dan n, c dan d, angka enam dan sembilan.

Riska berusia 27 tahun. Ia beranggapan masalah yang dihadapi oleh Raihan normal saja. Masalah yang sama dialami oleh anak pada umumnya. Bagi Riska, selama Raihan tidak nakal dan tidak bermain jauh dari rumah, kemampuan kognitifnya bisa berkembang dengan usia yang akan bertambah. Sejauh ini tidak ada solusi yang bisa diandalkan selain mengikuti dan mengimbangkan keinginan sang anak. Ia berpendapat, ketika seorang anak dikekang, ia akan ketinggalan dari teman-temannya.

“Ini zamannya teknologiii, sebagai orang tua kita tidak bisa menghambat keinginan mereka. Ketika kita melarang, dia akan ketinggalan. Ketika dia ketinggalan, kita sebagai orang tua juga yang akan malu.” Haliza dan Riska sepakat dengan simpulan ini. mengenalkan teknologi kepada anak di usia dini bukan lagi pilihan bagi orang tua, tetapi sudah menjadi kewajiban. Apalagi selama ini kehadiran teknologi sejenis gadget sangat membantu orang tua dalam mengatur waktu bermain anak tanpa harus melakukan pengawasan yang terlalu ketat.

Persoalan teknologi smartphone belum maksimal dipahami oleh orang tua, ternyata bukan masalah bagi mereka. Fokus keduanya adalah anak. Ketika metode di sekolah dilakukan secara klasik dan tidak menyenangkan, misalnya, mereka tidak lagi memaksakan anak belajar memahami di sekolah. Aplikasi terkait untuk mempercepat keunggulan anak akan diunduh di ponsel orang tua, meski ada pula orang tua yang tak tahu persis soal ini.

Haliza mengaku banyak mencari aplikasi yang memudahkan anaknya belajar membaca dan menghitung. Namun, ketika anaknya sudah bersama ponsel, biasanya sang anak akan mengabaikan semua aplikasi dan beralih pada game.

Riska sebaliknya. Meskipun membiarkan anak bermain game hingga larut malam, tetap saja dia tidak mengunduh aplikasi untuk belajar. Riska memang tidak tahu menahu soal aplikasi tersebut, ia pun tidak mencari tahu. Riska punya alasan untuk tidak mengunduh aplikasi seperti itu.

“Anak tidak bisa dibiarkan terus dengan ponsel. Kalau dibiasakan terus, dia akan minta dibelikan ponsel untuk menjadi miliknya sendiri,” ujar Riska beralibi. [ULFA KHAIRINA]

*

BERI ATAU TIDAK?

BEBERAPA PENELITIAN di dunia barat menyebutkan bahwa seorang anak dapat diberikan gadget dan diperbolehkan aktif dengan benda itu pada usia 10-13 tahun. Sementara itu, Dr. Ahmad Suryawan melalui catatan-catatan di web permata-hati.com menyebutkan, usia yang pantas adalah setelah enam tahun. Di bawah itu, anak-anak dilarang bermain gadget. Mengapa? Ya, karena ada bahaya masif yang mengancam mereka.

[1] Resiko radiasi Elektromagnetik. Lima tahun ke bawah merupakan periode emas yang harus diperhatikan pada masa tumbuh kembang anak. Di bawah usia ini, otak mereka sedang berkembang dan belajar dengan cepat. Jika anak diberikan gadget terlalu dini, radio elektromagnetik akan akan menghambat perkembangan kognitifnya, seperti susah berkonsentrasi, tidak bisa memahami pelajaran, dan mengalami hambatan serius lainnya.

[2] Kemampuan Psikomotorik berkurang. Usia di bawah 5 tahun juga usia dimana anak mengekplor bakat psikomotorik, seperti menyanyi, menari, menggambar, dan bersosialisasi. Di usia ini sebaiknya anak lebih diarahkan kepada bakat psikomotoriknya daripada bermain dengan gadget.

[3] Kesulitan berkonsentrasi dengan pelajaran. Sudah tentu anak yan tergantung pada gadget akan susah berkonsentrasi pada pelajaran. Mereka lebih tertarik pada tampilan gadget yang berwarna dan eye catching disbanding cara guru menjelaskan di kelas. Alhasil, anak akan selalu ingat kepada gadget-nya disbanding menyerap pelajaran di kelas.

[4] Kecanduan. Jika anak sudah kecanduan dengan gadget, dia tidak akan lepas dari benda ini. Ia akan melakukan cara apa saja agar bisa bermain dengan gadget. Tentu saja, ini akibat ketiga poin sebelumnya telah merasuki dan merusak sang anak.

Nah, bagaimana? Masih ingin memberikan gadget pada anak Anda?

*

Dipublikasikan di Tabloid Iqra’ Edisi I/Desember 2017

Author, journalist and student in the real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at Islamic University of Ar-Raniry, Banda Aceh. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

2 Comments

  • Zulfa R

    Selalu suka dengan hasil olahan kata2 yg disusun menjadi kalimat kalimat, dan menjadi sebuah paragrag. Jalinan cerita yg sangat ringan tetapi tidak bisa untuk tidak menghabiskan bacaannya sampai ending akhir..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *