Traveliner

Saya Yindunisiya, Ada Rasa Bangga Menyebutnya

“Ni shi Tai guo ren ma? (Apakah kamu orang Thailand?)“ Pertanyaan itu kerap ditanyai pada saya setiap berbelanja. Khususnya jika saya tak berkata-kata.

Bushi. Wo shi yinni ren (Bukan. Saya orang Indonesia).” Kata saya.

“Indu ren? (Orang India?)” Dia bertanya lagi. Saya menggeleng dan menyebut kata indunisiya (Indonesia) untuk memperjelas kebangsaan. Biasanya orang akan manggut-manggut dan meneliti saya dari ujung jilbab ke ujung kaki.

Lalu berkata, “Bahasa mandarin orang Indonesia jauh lebih baik.” Kemudian dia menyebut beberapa suku bangsa yang tidak terlalu bagus pronounsasi-nya. Ini bukan pertama kali saya dipikir orang Thailand. Saya sampai kesal harus mengulang kata Yinni menjadi Yindunisiya setiap saat. Pembahasan ini saya bahas di acara pertemuan liuxuesheng (mahasiswa internasional).

Forum tertawa, kemudian seorang mahasiswa asal Jepang, Kamei Hidefumi menanggapi dengan bahasa Inggris patah-patah, “Awal saya lihat kamu di kelas, saya juga berpikir kamu orang Thailand. Tapi kenapa kamu bicara bahasa Inggris dengan mahasiswa sebangsa lainnya. Saya juga heran ketika kamu bicara dengan mahasiswa asal Malaysia. Dalam hati berkata, wah… Kai Li Na benar-benar lihai(hebat) bisa bicara bahasa melayu”

Mahasiswa Switzerland yang sangat jago bahasa mandarin berkata dengan ungkapan yang berbeda, “Kamu bukannya dari Malaysia?” Saya menggeleng.

“Saya Indonesia” ada rasa bangga saat menyebut nama bangsa ini. Meskipun saya akui negeri saya sangat lucu. Di akhir forum Eric laoshi berkata pada saya, “Kai Li Na, kamu orang mana?” sambil tertawa-tawa. Saya tidak langsung menjawab, dosen di chuanmei banyak dekat dengan mahasiswa asing, terkadang mereka juga bisa diajak bercanda dan foto bareng dengan gaya super narsis.

Laoshi sudah tahu” Jawab saya santai.

Eric laoshi tertawa. “Kamu tahu Yala?” Saya mengangguk. Saya pernah membaca artikel tentang itu di internet. Yala merupakan sebuah provinsi yang dekat dengan Malaysia. Penduduknya 90% muslim. Kebanyakan penduduk Yala memakai jilbab. Meskipun saya tidak tahu apakah Yala termasuk kota syariat Islam seperti di Aceh. Saya punya seorang teman asal Yala, dia cantik. Tapi dia Buddha. Bukan muslim. Dia mengatakan kalau saya ke Yala, mungkin orang tak bisa membedakan apakah saya orang Yala atau orangg asing.

Pertanyaan ini juga dipertegas oleh Noong, gadis Yala itu. “Kalau kamu ke Bangkok dan masuk ke toko. Mereka nggak akan menyapa dalam bahasa Inggris. Mereka akan bilang begini…. Swadikhav… Ada yang mau anda pilih di toko kami?” dia menunjukkan cara hormat orang Thai pada orang asing. “‘Kalau kamu bicara, baru orang tahu, oooo… ternyata bukan orang Thai” Kata dia.

Di lain waktu, Rihanna, seorang teman saya asal Pakistan bertanya iseng, “Ulfa, menurut saya kamu bukan mirip Thailand”

“So?”

“Kamu punya wajah India” Saya tertawa ngakak. “Karena saya punya orang tua campuran. Nenek India, ayah Arab dan ibu chinese. Maka wajah saya seperti ini”

Mulut ibu dua anak itu melongo, “Wah, sangat banyak blasteran. Pantas saja wajah kamu berbeda dari orang Indonesia lainnya.” Dia memaksudkan orang Indonesia lain adalah mahasiswa keturunan tionghoa asal Indonesia.

*

Artikel ini dipublikasikan di Kompasiana pada tanggal 2 Desember 2013

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *