Bookish

Di Beijing, Mading Bacaan Para Lansia

Usai makan, jalan yang saya pilih lebih sering melalui taman yang ada suasana hutan. Di sini pemandangannya bagus, tidak jarang di gazebo arsitektur China banyak mahasiswa yang duduk belajar seorang diri. Kebiasaan ini sering juga saya ikuti, ternyata menyenangkan sekali. Cukup pakai headset dan menyalakan lagu-lagu Sheila On 7, lalu menegrjakan PR yang menumpuk.

Menyenangkan.

Ketika pulang kemarin, Sabtu (30 Nopember 2013), saya melewati jalan yang ada deretan majalah dinding (mading). Jalan ini dipenuhi dengan tanaman mawar, pohon rimbun dan orang-orang tua. Di musim gugur dan dingin bunga mawar aneka warna tidak mekar. Orang-orang tua yang berdiri di sana juga tampak menahan dingin demi secuil informasi. Orang-orang yang membaca adalah pensiunan yang bekerja di lingkungan Communication University of China (CUC). Baik darii kalangan pesuruh ataupun pensiunan. Mereka berdiri berjam-jam di sana.

Terkadang antara satu orang tua dengan orang tua lainnya saling berdiskusi tentang berita hari ini. Mereka bercerita banyak hal yang berkaitan dengan berita hari itu. Seperti heboh pemerintahan China memberi hukuman mati kepada para koruptor. Mereka mendiskusikan layaknya intelektual dan akademisi mengamati politik. Setiap hari koran-koram itu diganti. Saya pernah melihat seorang wanita membuka kaca-kaca tersebut dan mengganti koran-koran yang sudah lama dengan yang baru. Bentuk koran tersebut ada yang tabloid mingguan, ada pula yang harian.

Selama tiga bulan berkuliah di sini, saya belum melihat anak muda berdiri dan membaca di sini. Anak-anak muda di sini lebih senang membaca informasi dan berita apapun melalui gadget yang mereka punya sambil mendengarkan musik. Tidak duduk berdiskusi lagi seperti para orangtua. Keadaan ini berbeda sekali dengan di negeri tercinta.

Setiap kampus disediakan mading. Tapi madingnya kosong melompong. Jangankan orang tua, anak muda pun tidak ada yang berminat melirik ke sana. Kalaupun tidak menempelkan koran terbaru, koran yang sudah lama atau hanya berita-berita tertentu sangat bermanfaat ditempel di sana. Tidak semua orang suka membaca, tapi semua orang butuh informasi. Walaupun hanya berupa informasi lowongan kerja. Terkadang orang tidak suka membaca koran bukan karena malas, tapi lebih kepada biaya yang dikeluarkan untuk satu eksemplar koran bisa untuk membeli seikat sayur.

Jika di tempat umum dipajang koran seperti di kampus saya, semua orang mungkin bisa menjangkaunya. Kampus saya bukanlah kampus yang besar. Tidak besar bila dibandingkan dengan kampus lain di Beijing. Gedungnya tidak tinggi-tinggi. Namun termasuk kampus yang dipandang dan disegani oleh dunia luar untuk jurusan Komunikasi dan Animasi. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti pelayanan pihak kampus terhadap mahasiswa dan asrama.

Pelayanan terhadap publik pun sangat baik. Meskipun kampus ini hanya masuk jajaran 50 besar secara umum, tapi secara jurusan mendapat posisi lima besar di Asia. Untuk China? Komunikasi dan Animasi mendapat posisi nomor satu. Pelayanan publik yang diberikan oleh kampus ini memang terlihat jelas aplikasinya. Sesuai dengan prinsip Public Relation yang mengutamakan hubungan dan pelayanan umum kepada masyarakat. Ia sudah membuktikan.

Meskipun secara pribadi saya cukup kesal dengan pelayanan di awal kedatangan ke sini. Saya tidak dijemput dan dibiarkan mencari sendiri alamat yang ada bermodal catatan di admission notice.

*

Artikel ini dipublikasikan diĀ Kompasiana pada tanggal 1 Desember 2013

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *