Traveliner

Asap dan Pengaruh Kunjungan Turis ke Indonesia

Selasa pagi (6/10) sebuah gambar anak kecil dengan wajah sedih menenteng kertas beredar di media sosial Wechat. Kertas itu bertuliskan, “Pak presiden, kalau tak bisa matikan asap, kirimkan kami uang untuk ke dokter #SaveRiau” dengan latar belakang kabut asap. Setelah foto pertama itu diunggah salah satu pengguna wechatasal Indonesia, pengguna wechat lain asal Indonesia mengunggah foto yang sama dengan berbagai keterangan gambar. Ada yang meng-upload kembali gambar dengan bahasa mandarin, komentar terhadap foto dan ada pula yang menuliskan dalam bahasa mandarin.

Wechat merupakan salah satu media sosial yang dirilis tahun 2010 di Guangzhou, Tiongkok. Masyarakat Tiongkok lebih mengenal Wechatdaripada aplikasi lain dari luar negara. Sebagai mahasiswa asing yang belajar dan bekerja di Tiongkok, wechat juga merupakan bagian hidup bersosialisasi dan alat komunikasi pilihan dengan sesama.

Pengunggahan foto melalui wechat ini mengundang perhatian dunia terhadap dunia dan komunitas mahasiswa Indonesia di berbagai negara. Termasuk Tiongkok sebagai saah satu negara yang memiliki ribuan orang pelajar dari Indonesia. Perhatian mahasiswa Indonesia di negeri tirai bambu terhadap tanah air juga mengundang para pelajar yang masih berada di sini untuk mengambil andil.

Pada sebuah foto yang lain meminta para pembaca untuk ikut berpartisipasi dan peduli pada Indonesia. Alumni Indonesia-China Youth Exchange Program (IChYEP) 2015 mengadakan penggalangan dana melalui gerakan yang dinamai HAND FOR HAZE. Gerakan ini menggugah para mahasiswa Indonesia lain untuk saling berbagi unggahan dan menulis di halaman moment wechat masing-masing.

Penulis termasuk salah seorang di antara yang mengunggah ulang gambar tersebut untuk berpartisipasi. Namun reaksi yang diterima oleh penulis tidaklah semanis yang biasa diterima mengenai Indonesia. Banyak tanggapan negatif yang masuk dan mempegaruhi emosional penulis sebagai orang Indonesia.

Seorang mahasiswa kewarganegaraan Thailand berkomentar, asap kiriman asal Indonesia juga mempengaruhi Thailand bagian selatan. Ia bahkan menunjukkan sebuah gambar yang dikirimkan oleh temannya di bagian selatan kepada penulis. Teman penulis lain asal Amerika yang sedang berlibur di Malaysia mengatakan jika langit Malaysia lebih buruk dari langit di Tiongkok akibat asap kiriman ini.

“Berlibur di Malaysia saja bikin sesak, bagaimana degan berlibur di Indonesia. Saya bisa mati kehabisan napas” Kata Summers, turis asal Amerika. Sebelumnya ia menaruh minat yang sangat besar sekali untuk berkunjung ke Indonesia. Khususnya wilayah yang tidak padat turis mancanegara. Ia merasa berkunjung ke wilayah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi atau Papua merupakan destinasi wisata terbaik di Indonesia untuk menikmati pesona wisata yang sebenarnya.

Keadaan beberapa wilayah Indonesia yang dikepung asap dan memberi efek negatif ke beberapa negara tetangga memberi pengaruh negatif terhadap Indonesia. Khususnya pariwisata Indonesia terhadap minat pengunjung dunia. Sebelumya pengunjung mancanegara keIndonesia memang lebih sedikit dibandingkan turis yang datang ke Thailand. Padahal potensi wisata di Indonesia jauh lebih beragam daripada negari Gajah Putih tersebut.

Negara-negara tetangga yang mengalami efek asap kiriman tentu memberi kritik terhadap kondisi tersebut. Di samping kondisi masyarakat Indonesia sendiri yang memang memprihatinkan dari sudut pandang kesehatan. Dunia melihat, merasakan, mengomentari dan memberi efek ketidaknyamanan  terhadap Indonesia.

Saling menyalahkan tidak menyelesaikan masalah. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk memadamkan asap. Bahkan Mr. president juga tidak menyelesaikan masalah. Presiden bukanlah Tuhan yang bisa membolak balikkan keadaan. Namun, kesadaran masyarakat dan para pembalak liar serta orang-orang berkepentingan adalah poin penting untuk menangani keadaan sekarang.

Tanpa asap, banyak hal menguntungkan masyarakat Indonesia. Peningkatan ekonomi masyarakat dengan datangnya turis mancanegara salah satunya. Masyarakat yang sehat akan lebih produktif dan menjaga kestabilan ekonomi negara. Tapi apakah orang-orang serakah berpikir untuk orang banyak?

*

Artikel ini sudah dipublikasikan di Kompasiana pada tanggal 8 Oktober 2015.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *