Traveliner

Tidak Semua Tahu Tsunami

Dalam sebuah mata pelajaran yang melibatkan keahlian komunikasi, tentu dilibatkan pula siswa untuk tampil berbicara. Metode-metode yang memberi stimulus bagi siswa untuk berani berkomunikasi dengan benar dilakukan oleh para dosen untuk mengajar mata kuliah asing di China. Itu juga yang dilakukan oleh dosen saya untuk melihat kemampuan dan perkembangan mahasiswanya. Kelas Saya contohnya. Penerapan grammar yang sulit dan pemakaian kalimat sehari-hari terkadang masih terbalik-balik.

Biasanya tugas yang diberikan berkisar dengan membaca teks dengan shengdiao (tingkatan nada) yang benar, serta perubahan nada bila bertemu dengan nada lainnya.

Setiap mahasiswa diwajibkan mengirim tugas tersebut menggunakan aplikasi weixin (wechat) melalui fitur voice note  kepada dosen.  Selain untuk memudahkan mahasiswa dan dosen, cara ini juga cara China mempromosikan aplikasi mereka untuk digunakan oleh orang asing. Mau tidak mau, negara pembuat aplikasi seperti Amerika, Jepang, Korea dan lain-lainnya juga terpaksa mengunduh aplikasi ini untuk kepentingan kuliah dan mengirim tugas, serta berkomunikasi di grup kelas.

Bulan terakhir kuliah digunakan untuk memperkenalkan kota masing-masing-masing-masing berdasarkan negara. Thema kota dipilih karena banyaknya mahasiswa yang berasal dari negara yang sama dalam satu kelas. Saya termasuk orang yang harus mempresentasikan lebih panjang, tentang Indonesia dan Aceh.

Selama ini banyak mahasiswa yang mempresentasikan tentang Bali dan Jakarta. Karena kebanyakan mahasiswa yang kuliah di Beijing  berasal dari Jakarta. Kebanyakan dari mereka mengunjungi Bali sebagai destinasi wisata.

Dosen Saya berkata setengah memberi peringatan, “Kailina, wo bu yao Bali dao. Ni zhao biede difang a (Kailina, Saya tidak mau pulau Bali. Kamu cari tempat lain lah).”

“Saya akan ceritakan kota Saya, laoshi (guru, dosen, dan orang yang dihormati secara akademis). Bandayaqi (Banda Aceh)” jelas Saya.

Setelah pernyataan itu, maka sibuklah Saya menggumpulkan bahan untuk presentasi. Mulai dari gambar, menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, dari bahasa Inggris ke bahasa mandarin. Saya tidak tidur, sampai-sampai Saya membolos kelas sehari sampai berlatih bicara di depan cermin. Bahkan setiap pagi Saya berteriak-teriak di kamar mandi untuk membenarkan prononsasi dan nada. Tentu saja bukan hanya saya yang melakukan aktivitas ini teman-teman sekelas juga. Presentasi ini adalah penentuan untuk kelulusan mulai kuliah kouyu (percakapan).

Presentasi mencakup wilayah geografis, tempat wisata, kuliner, kelebihan dan kekurangan kota tempat kita berdomisili, hasil bumi sampai persepsi cewek cantik dan cowok ganteng di negara masing-masing-masing. Saya menjelaskan tempat-tempat terkenal berdasarkan pulau secara garis besar. Lalu memberikan durasi terbanyak pada Aceh.

Ketika tiba waktunya Saya presentasi, Saya berusaha tegar di depan kelas. Teman-teman sekelas ada yang cuek, ada yang kagum. Perhatian yang diberikan oleh teman-teman sekelas juga menjadi penentu penilaian. Saya mulai tidak tenang ketika masuk ke sesi penjelasan Banda Aceh. Apalagi saat gambar masjid Raya, beberapa teman yang sama sekali tidak beragama langsung merebahkan kepala di atas meja.

Tiba-tiba saja seorang mahasiswa Turki yang seorang Muslim berteriak, “Teman-teman inilah yang namanya masjid. Kalian harus tahu, masjid ini dulu istana”

Semua menatap malas dan kembali memperhatikan gambar demi gambar yang terlewat di slide. Beberapa orang berkomentar dengan bahasa nasional negara masing-masing-masing. Strategi terakhir Saya memutar tayangan tsunami Aceh. Perhatian mahasiswa tercuri. Mereka tercengang, melongo. Kelas menjadi milik Saya.

Berbagai macam pertanyaan diajukan pada Saya. Semua tentang tsunami. Karena tidak siap dengan kondisi ini, saya mencampurkan antara bahasa mandarin dan Inggris. Waktu 15 menit yang diberikan tidak cukup, tanpa kesepakatan saya sudah menyita sebanyak 36 menit presentasi.

Tsunami tidak melanda Aceh saja. Thailand dan Srilanka juga mendapat dampak dari tsunami ini. Sehingga mereka yang berasal dari dua negara ini juga ikut membantu Saya menjelaskan tentang tsunami.

Usai kelas, seperti biasa Saya tidak keluar dari kelas.  Banyak yang datang ke bangku saya secara pribadi. Mereka bertanya segala hal tentang tsunami. Mulai dari kapan terjadi, berapa jumlah korban sampai apakah ada dari pihak keluarga yang menjadi korban.

Dari sini Saya baru tahu, ternyata tidak banyak generasi muda yang mengetahui soal tsunami. Padahal tsunami Aceh adalah bencana internasional yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Aceh saja.

Biasanya kalau orang bertanya asal Saya di Indonesia, Saya akan menjawab “Banda Aceh. Kota yang terkena tsunami” orang akan mengangguk-angguk mengerti. Ternyata tidak semua.

Seperti di awal kedatangan Saya di Beijing. Seorang perempuan asal India bernama Manisha bertanya ramah. Saat menyebut Banda Aceh, wajahnya langsung menegang dan berkata, “Oh my god! Tsunami? Kau tahu Aku tidak berani ke laut gara-gara tsunami Aceh yang berdampak juga di negara lain. Do you know? I love swimming. I love beach! Tapi setelah itu Aku tidak ke laut bertahun-tahun lamanya.”

Manisha tidak terkena dampak tsunami secara langsung. Dia hanya melihat kejadian itu di TV. Dan ini memberi efek trauma juga buat dia.

*

Artikel ini dipublikan di Kompasiana pada tanggal 16 September 2015

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

One Comment

  • togel hongkong

    Generally I do not read post on blogs, but I would like to say that this write-up very forced me to try and do so! Your writing taste has been amazed me. Thanks, very great article.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *