Traveliner

Perjalanan Lintas Kenangan

“Kemana kita?” suara paman saya memecahkan suasana gosip yang terjadi di antara saya dan sepupu-sepupu. Mereka lebih mudah dari saya beberapa tahun. Kami sedang membicarakan fakta dan mitos yang beredar di instagram. Sepupu saya paling kecil sangat menyukai cerita hantu dan sejenis mitos. Kebetulan media baru yang beredar di Indonesia memfasilitasi ketertarikannya pada cerita jenis ini.

Hari itu lebara hari pertama. Ketika paman sekeluarga bersilaturahmi ke rumah, saya ikut nebeng ke rumah beliau. Sejak ayah saya meninggal sekitar setahun setengah silam, saya hijrah ke China untuk melanjutkan studi. Saya jarang pulang dan ketika di rumah, waktu yang berjala sudah terpakai untuk menulis, membaca atau menggambar.

Hari itu bisa dikatakan pertama kali pada tahun ini saya keluar jauh dari rumah. Melagkah jauh untuk melihat dunia luar. Perjalanan dari Jalan Lintang ke arah barat sangat menakjubkan.

Melewati kota Takengon da kawasan Tansaril pemandangan alam nan indah mulai memyejukkan mata. Sungai yang mengalir dipit oleh persawahan yang berteras mengingatkan saya pada kartu pos yang dibagi-bagi oleh teman saya ketika kembali dari provinsi Yunnan, China. Bedanya teman saya membagikan kartu pos dengan suasana musim dingin, sehingga teras-teras bertingkat itu diselimuti es. Sementara apa yang terhampar di depan mata saya adalah permadi hijau bertingkat dengan pantulan keemasan.

Rasanya bertahun-tahun saya tidak melihat undakan bukit-bukit hijau dengan pinus tertancap di atas kue tart ulang tahun. Langit biru bersih tanpa awan. Pemandangan yang langka sekali di kota-kota. Aroma rumput-rumput liar masih tercium meski asap dari knalpot kendaraan bermotor memenuhi jalanan yang mulai macet.

Hari itu adalah hari istimewa bagi ummat muslim di Indonesia. Saya menyebutnya macet istimewa. Kondisi jalanan yang tak bisa disebut baik itu macet karena orang-orang berkendaraan memadati jala untuk berkunjung ke rumah sanak famili, bermaaf-maafan di hari yang fitri. Lihat, betapa istimewanya macetnya hari itu.

Sepupu saya mempunyai bakat menjadi reporter televisi. Ia terus mengoceh sepanjang jalan mengomentari apa yang dilihat. Bukit yang menghijau, aliran sungai, persawahan, bahkan kambing yang terlihat menjadi bahan ocehannya. Cara ia berkomentar mengocok perut. Terkadang saya sampai terpesona dengan gayanya, toba-tiba ia mengubahnya menjadi seperti lawak stand up comedy.

Sementara sepupu saya yang laki-laki, dduk di jok paling belakang mulai mengontrol diri agar tidak muntah. Sesekali ia bicara, “Sudah terbayang apa yang akan ditulis?”

Jujur.

Saat itu yang terpikir di dalam kepala saya hanya berhenti sejenak, keluar dari mobil dan memtret. Selfie dengan latar pemandangan indah ini, ;a;u posting di wechat. Wechat merupakan salah satu aplikasi media baru yang dipopulerkan di China. Bahkan orang-orang di negeri tirai bambu tdak memakai aplikasi lain, hanya wechat dan QQ dan ebberapa nama yang cukup asing bagi masyarakat um dunia.

Teman-teman saya di wechat memang kebanyakan orang asing, bukan orang China. Tapi dengan adanya postingan seperti ini akan memperkenalkan pada dunia betapa bagusnya pemandanga alam Indonesa. Belum terjamah modernitas yang diadaptasi dari gaya kota maju.

Beberapa postingan yang masih alami bahkan mendapat komentar positif dari tema-teman saya. Mereka berkata, “Ternyata Aceh itu sangat indah ya. Aku pikir Aceh Cuma tinggal gedung-gedung rusak sisa konflik”

Sementara teman-teman dari negara lain berpendapat bahwa Indonesia ternyata punya sisi eksotik yang menakjubkan. Teman-teman Saya asal Amerika selalu ingin ke Indonesia. Tapi mereka tidak pernah ingin mengunjungi kawasan padat turis. Pemandangan seperti ini seperti referesni baru bagi mereka. Bukit hijau, langit biru, air mengalir. Pemandagan sempurna.

Banyak perubahan yang terjadi di kawasan tansaril, tensaran dan sekitarnya. Terakhir kali saya ke daerah ini adalah saat kelas tiga aliyah. Waktu itu kami melintasi daerah ini menuju ke Silih Nara, Angkup. Perumahan di sana masih cukup jarang. Tidak banyak pembangunan yang mengarah ke pemukiman kota. Ya, tentu! 10 tahun lalu.

Dalam satu dekade semuanya berubah drastis. Takengon merangkak maju perlahan. Aliran kencang sungai yang menjadi momok menerikan bagi seorang anak yang tak bisa berenang kini hanya aliran dangkal. Bahkan mobil bisa masuk ke dalam sungai yang dulunya berairan deras untuk membersihkan diri. Dulu, jangankan mobil, manusia saja harus bermodal ahli mengarungi arus ntuk menikmati sejuknya aliran sungai ini.

Saat masih sekolah di tsanawiyah, saya sering ke kawasan ini mengunjungi teman. Khususnya seminggu setelah ujian. Masih dengan seragam sekolah kami datang dari rumah ke rumah. Lalu menikmati kehidupan anak desa yang dekat dengan alam.

Ketika membayangkan masa-masa itu, ada rasa rindu ke masa lalu yang cukup parah.

Beberapa puluh kilometer dari kepadatan kota Takengon, setelah mengemudi satu jam setengah. Kami tiba di tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Ada sebuah aliran sungai yang cukup lebar. Bebetuan besar berserakan acak di dalam sungai. Sungai ini berada di antara bukit-bukit hijau. Antara satu bukit dengan bukit lainnya dihubungkan dengan jembatan besi. Di saah satu bukit sebuah proyek yang disponsori oleh Hyundai sedang beroperasi. Mungkin karena lebaran, para karyawannya libur.

Angin segar pegunungan masuk ke paru-paru, membersihkan racun yang menumpuk oleh asap kendaraan sepanjang perjalanan. Tentu saja, berada di sini saya menjadi kalap. Beberapa foto pemandagan terekam di memori ponsel. Tak ketinggalan selfie bersama sepupu.

Aplikasi wechat menyediakan fitur sight, yaitu merekam video untuk beberapa detik dan dibagikan ke moment ata timeline pengguna. Semua teman yang tidak terhidden oleh pengguna bisa melihat kiriman ini.

Saya merekam moment alam dan membagikan ke aplikasi yang digunakan oleh semua orang yang di China. Inilah indonesia. Secara tidak langsung saya ingin menjelaskan pada mereka, bahwa Indonesia tidak hanya laut dan laut. Indonesa memiliki dataran tinggi yang menakjubkan.

Perjalanan dilanjutkan selama dua jam lagi. perjalanan yang biasa saja mulai menantang, mulai terasa petualangannya. Sepupu saya yang berjiwa reporter mulai terdiam karena mual. Jalan berlenggok, mendaki, dingin. Kiri kanan pohon-pohon inggi, labat berdiri pongah. Seperti tangan raksasa yang seaktu-waktu siap mengambil mobil yang kami tumpangi dengan mudahnya.

Hal menarik yang mungkin tak pernh di miliki oleh wilayah lain di luar sana adalah kelompok perumahan bertumpuk di tengah hutan. Saat berkilometer tanpa perumahan, kendaraan dan sepi. Tiba-toba setumpuk rumah papan dengan warna-warna menarik seperti goresan cat di kanvas hijau.

Semakin jauh, pemandangan semakin liar dan terjal. Jalan bukan saja mendaki dan menurun. Tapi juga berkelok. Gunung dan jurang yang cukup dalam. Kami seolah menumpangi obil terbang Harry potter. Bila melihat ke luar jendela, hanya ujung-ujung pepohonan yang menutupi jurang di bawah sana. Sekalinya jarak pandang sejajar, pohon-pohon pisang berdaun kecil bertumpuk.

“Ini namanya pisang hutan” reporter kami, sepupu saya berseru.

Saya pernah mendengar pisang hutan. Ini adalah jenis pisang denga daun kecil, berbatag agak keunguan dan sangat langing. Batangnya pendek, berbuah kecil. Katanya santapan para hewan liar di dalam hutan sana.

Ketika masih tergabung dengan Palang Merah Indonesia, saya pernah menerima pelajaran survival. Dalam materi ini diajarkan bagaimana bertahan di hutan tanpa makanan. Pertahanan pertama yang dilakukan adalah melihat makanan lazim seperti buah-buahan hutan. Kemudian perhatikan tingkah hewan di sana, mulai dari binatang besar sampai kecil seperti semut atau ulat kecil. Bila tumbuhan tersebut dihinggapi oleh binatang, artinya tumbuhan ini layak dimakan untuk mempertahankan hidup. Bila tidak, artinya tumbuhan tersebut beracun.

Tentu saja pisang hutan adalah tumbuhan yang layak disantap. Selain masih tergolong jenis pisang yang lazim di konsumsi juga menjadi incaran hewa primata.

Berkilometer dari hutan lebat ini, sebenarnya masih ada rumah-rumah penduduk. Meskipun sepanjang jalan ada saja fenomena alam yang memperngatkan manusia bahwa kawasan ini masih murni. Tumbuhan anggrek yang indah menumbuhi tebing-tebing di tepi jalan. Di tengah hutan sebatang pohon terlihat penuh dengan bunga berwarna putih. Segala hal tentang hutan liar terpampang di depan mata seperti masuk ke dalam buku cerita.

Matahari mulai turun, gelap akan datang. Pameu masih berjarak sekitar 20 kilometer lagi. kami tidak melanjutkan perjalanan. Berbelok ke jalan pulang menjelag azan maghrib berkumandang.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih dekat dibandingkan perjalanan ketika berangkat. Kami melewati uning, tempat berfoto sebelumnya. Menikmati mie goeng di salah satu warung di Angkup. Melaksanakan sholat maghrib di salah satu mesjid. perjalanan pulang tak kalah indah.

Di depan kami perkampungan dengan lampu berwarna-warni terhampar di atas bukit dan di bawah lembah. Sisi indah yang tak terlihat ketika perjalanan di siang hari. Susana hari raya masih berlangsung, kembang api terbang dan pecah di langit berulang-ulang. Tepat di atas pemukiman yang ditunjukkan melalui titik-titik lampu. Indah.

*

Artikel ini dipublikasikan di Kompasiana pada 18 September 2015

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *