Bookish

Kutu Buku atau Kutu Smartphone

KEMUNCULAN smartphone di era globalisasi merupakan suatu kejutan bagi pengguna ponsel. Efek kecanduan semakin menjadi ketika kehadiran ponsel dilengkapi dengan fitur-fitur menarik. Sistem operasi android yang memberikan kebebesan bagi pemiliknya untuk mengunduh aplikasi favorit menambah daya tarik ponsel pintar dimana pun pengguna berada. Ponsel bersistem android semakin mempesona siapa saja.Android merupakan sistem opegasional yang dimiliki oleh telepon genggam dan dikembangkan oleh google. Secara umum, sistem android juga dilengkapi dengan sistem penggunaan daya sentuh keyboard virtual.

Sama seperti dengan ponsel pintar yang dikeluarkan berbagai merek, android pun memiliki versi yang terus diperbaharui. Versi terbaru dari android saat ini adalah Android 7.1 Nougat. Pada masa pengembangan versi ini, android nougat ini dirilis pada 7 November 2016, secara umum sudah dirilis sejak 4 Oktober 2016.

Semakin tinggi versi android, maka semakin memungkinkan bagi para pengguna untuk mengunggah aplikasi apa saja yang diinginkan. Khususnya bagi pengguna yang memgungsikan android tidak sana sebagai ponsel pintar modal gaul. Ponsel pintar bisa merubah fungsinya lebih memintarkan dengan sarana pembagian ilmu pengetahuan untuk penggunanya.

Istilah ‘Pustaka Berjalan’ yang diberikan kepada seseorang yang memiliki sifat adiksi terhadap buku dan membawa berbagai macam bahan bacaan. Julukan ini pun bisa berkonotasi negatif. Ketika seseorang yang memiliki dunianya dengan tumpukan bacaan yang mencerdaskan dan menambah wawasan. Meskipun bacaan yang dibacanya tidak selalu bacaan berat. Meskipun bacaan yang ditenteng oleh ‘si kutu buku’ hanyabsebuah novel, pustaka berjalan tetap berlabel pada sosok gemar membaca.

Kehadiran ponsel android saat ini memberikan ruang bebas bagi orang-orang yang mendapat julukan ‘Pustaka Berjalan’ atau ‘Kutubuku’. Sebanyak apapun buku yang dibaca oleh si pengguna, tidak ada yang tahu. Karena aktivitas mengobrol dan membaca di layar ponsel tidak membedakan posisi pengguna dan sikap pengguna. Pengguna tetap menatap layar dan berkonsentrasi dengan apa yang dilakukannya.

Sebelum kehadiran ponsel pintar, banyak pecinta buku harus menenteng buku kemana-mana. Kini akses semakin mudah dengan munculnya aplikasi-aplikasi bacaan. Kutubuku pun bisa menyembunyikan diri dari julukan pustaka berjalan dengan mudah.

Solusi yang diberikan oleh ponsel pintar untuk penggunanya sangatlah beragam. Hanya bermodal tiga kata kunci ‘download, install, baca’ siapa saja bisa menjadi pustaka berjalan. Terlebih lagi, banyak sekali dikembangkan aplikasi untuk membaca yang bisa diunduh dengan murah.

Pustaka berjalan kini hanya dalam aplikasi. Sifatnya pribadi, kurangnya pelabelan dengan konotasi negatif dalam masyarakat, serta mudahnya akses untuk mendapatkannya. Lantas, haruskah kutu buku yang kerap dijuluki pustaka berjalan harus berubah nama menjadi ‘kutu snartphone readers’?.

*

Ulfa Khairina, alumnus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh; Magister International Communication pada School of Television, Communication University of China, Tiongkok.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *