"You are Connecting To My Words"

Laut Di Dataran Tinggi

Laut Di Dataran Tinggi

AKU bukan tidak niat ikut serta, hanya tidak ingin melihat Aceh lagi. Sudah jelas aku tinggal di Aceh, kenapa mesti tempat itu pula yang aku lihat lagi. Bagiku jalan-jalan adalah melepaskan penat dengan melihat tempat baru yang tak pernah lihat sebelumnya. Ini bukan karena aku sombong atau apa, dengan melihat budaya orang luar.

Memang aku tak pernah menuju ke daerah yang katanya punya panorama istimewa itu. Kalau hanya berwisata di sana mengeluarkan isi perutku karena jalannya, aku lebih memilih untuk tidak pergi. Aku ingin tetap di sini saja, di kota Banda Aceh. Biar saja teman-teman menganggapku apatis, egois, ataupun istilah negatif lainnya. Aku tak peduli.

“Kok ke Takengon, sih? Gunung begitu? Ada apa coba di sana?” Tanyaku sewot. Gunung. Gunung. Gunung. Hanya itu yang bisa aku lihat di kota dataran tinggi itu. Apa yang dibaggakannya? Danau? Ah, kami kan bisa ke danau Toba saja yang popularitasnya hingga ke luar negeri.

“Iya, Ri. Kan dana kas kita nggak cukup untuk ke luar negeri” Sanjani terkekeh sambil menuliskan nama-nama murid kelas untuk tamasya tahuhan. Tahun depan kami sudah tamat, tahun ini saatnya untuk jalan-jalan demi kebersamaan.

 

“Iya… Tapi kan bisa ke Danau Toba aja yang lebih wow, gitu!” Aku masih protes.

Sanjani teman dekatku. Dia pun punya posisi yang wow di kelas. Posisinya sebagai ketua kelas. Tentu saja aku bisa langsung memberi masukan untuknya. Sanjani tak menanggapi ucapanku. Beberapa menit kemudian satu persatu teman sekelas mulai berkerumun di bangku kami. Ia mulai melayani teman-teman yang mendaftar untuk ikut serta wisata tahunan kami.

Sanjani masih sibuk di kelas dengan teman-teman yang mengerubunginya. Sampai detik ini teman-teman masih mendaftarkan diri dengan mengembalikan surat izin orangtua untuk wali kelas. Bunda sudah menandatangani surat izinku, jaga-jaga kalau nanti bunda sibuk dan lokasi jalan-kalan kami diubah ke tempat lain. Cuma aku masih menunggu keajaiban yang tak mungkin itu.

“Hai, Ria!”

Seseorang menepuk pundakku. Dia Ane, teman sekelasku. Dia perantauan dari kota yang akan kami kunjungi. Seperti kebanyakan anak Takengon lainnya, ia berkulit putih dan cantik sekali. Hampir semua cowok-coowok di sini tertarik padanya. Tapi dia menanggapi semua sikap teman-teman lelaki dengan tenang. Seolah mereka tak punya alasan apa-apa padanya. Itu hal yang aku sukai dari Ane.

“Kamu ikutan kan ke kampungku?” Tanya Ane tersenyum. Senyuman yang luar biasa manisnya.

Aku menghentikan makanku dan menatapnya penuh kekesalan. Menyebalkan. Aku tidak mau dia mengajakku ke kotanya yang mengerikan itu. Bisa-bisa aku pulang ke Banda Aceh langsung masuk rumah sakit dan opname. Apapun alasannya.

Ane mulai menceritakan keindahan kotanya yang pernah aku dengar dari banyak orang. Tentang danau yang luar biasa keindahannya. Legenda Putri Pukes dan gua Loyang Koro. Ada puncak yang menawan, mereka menyebutnya Pantan Terong. Minum kopi asli yang langsung diolah di kebun kopi. Udara sejuk seperti puncak Bogor. Sayangnya, aku tak tertarik. Aku tak terpengaruh.

“Ada yang orang tidak tahu sebenarnya. Di kampungku ada laut” Ucap Ane akhirnya. Aku terkejut.

Laut? Bukankah Aceh Tengah letaknya di ketinggian, bagaimana mungkin ada laut?

“Mana bisa? Bukannya kampung kamu itu di pelosok Aceh? Kalau jalan di Cot Panglima itu longsor, aku dengar kalian bakal mati kelaparan di sana” Sinisku.

“Nah, itu dia uniknya. Kami masih tetap bisa makan karena ada laut.” Ane melanjutkan bicaranya.

“Laut? Kalian menggunakan transportasi laut untuk tidak lapar?”

“Tepatnya untuk mempertahankan hidup. Bahkan salah satu mata pencaharian masyrakat kami ada yang melaut, selain berkebun”

“Masa sih?!” Aku mulai merasakan perasaan yang tak kuinginkan.

“Iya. Laut kami sama seperti laut-laut di pesisir. Ramai sekali menjelang hari libur, hari-hari besar” Cerita Ane. Tenang.

“Kamu sering ke laut?”

“Iya. Aku suka ke Pante Menye. Di sana lautnya biru dan pasirnya putih. Ombaknya besar. Pemandangannya indah banget. Kalah deh pantai-pantai yang sekarang dibanggakan di luar negeri”

“Phuket di Thailand bisa kalah?” Aku penasaran.

“Iya. Di phuket kan cuma pantai saja. Terus karang-karang tinggi. Kalau laut kami lebih istimewa”

“Wah, aku tidak pernah dengar kalau Takengon punya laut”

Ane tertawa. Ia menatapku dalam-dalam. Mencari keseriusan di wajahku. Benar. Aku tak pernah dengar kalau di Takengon ada laut.

“Makanya, kamu harus ikut. Kalau perlu tambah saja beberapa hari. Kamu bisa tinggal di rumahku. Tidak usah pikir soal makan dan transportasi. Aku punya motor untuk kita keliling beberapa hari lagi. Kamu boleh nginap sepuasnya di kamarku” Ane tersenyum lebar.

Perjalanan ini sebenarnya melelahkan dan membuat isi perutku seperti diblender. Beberapa kali aku muntah dan tak banyak yang bisa dilakukan oleh teman-temanku. Mereka sepertinya sibuk dengan kameranya masing-masing. Berfoto di bus dan sesekali mereka memotret pemandangan di luar bus yang berbeda seperti daerah lain. Aku ingin turut serta, tapi aku tak sanggup lagi.

“Kamu tidur saja. Kamu cuma belum terbiasa naik bus, Ri” Ujar Sanjani sambil mengoleskan minyak kayu putih di tengkukku.

“Semangat, Ria! Jangan tumbang. Masih banyak yang harus dilihat. Laut. Laut.” Ane yang duduk di bangku belakang kami berdiri dan memberi semangat.

Perlahan kupejamkan mataku. Sampai terlelap. Aku terbangun kembali ketika teman-teman bersuara riuh rendah.

“Udah sampai, Ri” Kata Sanjani.

Aku melihat sekeliling. Perumahan yang kebanyakan terbuat dari papan. Kiri dan kanan pegunungan. Udaranya sejuk. Aku tak bisa percaya bahwa aku sedang berada di kota yang membuat aku dan semua teman-temanku nyaris mati membeku.

“Sejuk ya, udaranya. Sering-sering berwiasata ke tempat seperti ini kan buat otak kita segar. Bebas polusi” Salah seorang teman sekelasku berkata.

Aku mulai meyakini dalam hati. Tapi aku memilih diam. Pura-pura tidak tahu. Udara sejuk yang mulai menusuk tulang tidak aku rasakan sebagai dingin. Tapi lebih kepada udara yang berhembus dalam kulkas. Bedanya ini kulkas alam.

“Agenda hari ini melaut” Ujar Sanjani di dalam bus.

“Horeeee…!!! Mantrap dah”

“Akhirnya cita-citaku sampai juga”

Beberapa anak mulai riuh rendah bersuara. Aku masih dalam aksi diamku. Duduk manis di dalam bus tanpa seorangpun peduli bagaimana suntuknya aku.

“Kamu harus bersiap menghadapi suatu hal yang paling fenomenal dalam hidupmu, Ria” Ane tersenyum lebar.

“Jangan mabuk ya. Perjalanan ini sangat menyenangkan” Tambah Sanjani. Ia menyodorkan satu bungkus kacang kepadaku. Aku menolaknya.

“Aku tidak berminat apapun” Ungkapku bohong.

Perjalanan ini sungguh menyenangkan menurutku. Begitu bus yang kami tumpangi masuk ke jalan yang diapit persawahan, mataku sudah menangkap keindahan lainnya. Garis putih kebiruan mulai tampak di sebalah kanan, di tepi persawahan yang hijau. Tapi aku tak melihat lautan yang lepas, sekelilingnya dikelilingi  oleh gunung-gunung yang hijau.

Jalan mulai mendaki. Aku melihat dua hal sekaligus. Sebelah kanan panorama danau yang indah. Sebelah kiri pegunungan yang menjulang. Danaunya besar dan aku tak melihat apapun selain gulung-gulung kecil yang disebabkan oleh angin. Dalam istilah keilmuan disebut sebagai ombak. Bagus sekali.

Bus mulai masuk perkampungan yang sangat aneh sebutannya. Merodot. Itu nama desa yang letaknya di kecamatan Bintang. Menurut Ane, kata Bintang di ambil karena letak desa ini sangat jauh dari perkotaan. Maka orang-orang menyebutnya Bintang. Sama seperti bintang di langit yang tinggi dan jauh sekali.

“Selamat Datang di Pante Menye” Ucap Sanjani.

“Benaran pantai itu, Ne?!” Seseorang bertanya.

“Iya. Kalian jangan heran ya kalau melihat laut yang lebih indah daripada di laut-laut lainnya”

“Kok bisa?”

“Nikmati sajalah”

“Pantai Menye”

“Pantai menye”

“Laut. Laut”

Mataku melongok keluar. Pantai yang mungil. Seperti pantai buatan di film-film animasi. Hanya ada tumbuhan eceng gondok yang menari-nari dimainkan ombak kecil memecah di pantai. Dalam waktu beberapa saat saja aku sudah menikmati Danau Laut Tawar ini.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Sanjani padaku.

“Bagus”

“Ada komentar lain?”

“Laut itu…”

“Iya. Laut itu Danau Laut Tawar. Mereka menyebutnya laut karena danau ini tidak seperti danau kebanyakan. Ada pantai yang landai. Pasir putih. Ombak tinggi”. Aku tersenyum. Aku sudah tahu soal danau laut tawar yang disebut laut oleh masyarakat setempat. Aku tidak protes, karena keindahannya mampu membayar rasa lelah itu. Laut itu. Danau laut tawar.

Banda Aceh, 3 November 2012



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *